Bertemu Pasutri Kandidat Doktor


Pagi tadi kusempatkan ke kampus untuk menyerahkan foto yang belum kupenuhi sebagai syarat untuk yudisium. Foto yang kubuat kemarin siang di Fresco Studio, persis di depan kampus UNY. Sebenarnya aku sudah punya pas foto yang dibuat kurang lebih satu tahun lalu. Tapi berhubung, buk Titiek, staff akademik filsafat UGM yang baik dan murah senyum, merekomendasikanku untuk bikin pas foto yang pake jas biar tampak gagah, akhirnya dengan senang hati ku buat foto baru. Lagian foto itu akan ditempel di ijazah sarjana Universitas Gadjah Mada.

Setiap ke kampus, tempat yang tak bisa kulewatkan adalah perpustakaan. Meskipun kartu perpustakaanku telah dinonaktifkan, tapi sama petugas masih diperkenankan untuk baca buku-buku. Lumayan untuk mengisi hari-hari luang menjelang wisuda tanggal 18 Februari nanti.

Di sudut barat ruangan, ku hampiri mas Iskandar, adik kelas yang selama beberapa bulan berduet denganku mengurusi data web dosen filsafat UGM. Ku kira mas Iskandar suntuk mencari referensi skripsi, eh tenyata lagi bikin tulisan buat blog. Salut deh buat mas Iskandar yang serius banget bikin tulisan untuk ditampilkan di blog.

Berbincang sesaat dengan mas Iskandar, akupun beralih ke sebelah, tempat uda Febri Yulika sedang suntuk membaca buku untuk disertasinya. Uda Febri adalah staf pengajar STSI Padang Panjang yang saat ini sedang menempuh program doktoral filsafat UGM. Pertemuan pertamaku dengan beliau ketika seminar yang diadakan fakultas. Saat itu membahas Metafisika Filsafat Nusantara. Aku kagum dengan pertanyaan Uda Febri waktu itu. Karena sedikit-sedikit bisa “mengidentifikasi” bahasa Indonesia ala orang Minang, maka setelah seminar, kusabangi beliau sekaligus kenalan.

Aku kaget ketika uda Febri mengenalkan aku dengan seorang Ibuk-Ibuk yang duduk persis di sebelahnya. “Gun, kenalkan.. Iko istri ambo” (Gun, kenalkan.. Ini istri saya). Kusalami  Ibu itu dengan senyum sumbringah. Ah, ternyata ini istri uda Febri yang sering beliau ceritakan.

Uda Febri mempromosikan skripsiku tentang Yahudi kepada istrinya. Sehingga terjadilah obrolan hangat di antara kami bertiga. Secara kebetulan tema skripsi yang kubahas, ada di bagian buku yang sedang dibaca oleh Istri Uda Febri, “Sikap Perilaku Manusia” dan “The Power of Symbol”. Agar tak kehilangan momen, aku minta izin untuk mengcopy buku kedua kepada Uni Susi, istri Uda Febri. Dengan senang hati Uni Susi meminjamkan bukunya.

Selepas itu, obrolan kami semakin ramai setelah ku tahu Uni Susi yang lagi S3 di University Kebangsaan Malaysia ini menulis disertasi tentang tanah ulayat di Minangkabau. Kebetulan juga, aku sedang “berperang” dengan beberapa Kompasianers terkait tema ini. Ya, paling tidak ada masukan baru untuk mengcounter beberapa komentar di Kompasiana.

Pertemuan menyenangkan ini berakhir ketika adzan berkumandang dari Masjid Kampus UGM. Alhamdulillah, di akhir pertemuan tadi Uni Susi berkenan untuk berdiskusi lagi di lain waktu dan memberikan nomor handphonenya kepadaku.

Dalam perjalanan pulang, aku senyum-senyum sendiri. Mengingat pertemuanku dengan pasangan suami-istri yang sama-sama kandidat doktor ini. Aku berkhayal, bisakah aku mengikuti jejak Uda Febri dan Uni Susi? Membangun keluarga yang penuh dengan nuansa dan spirit akademis. Ah, mudah2an bisa. Kutadahkan tangan semoga Tuhan memperkenankan aku mengikuti jejak suami-istri yang cerdas lagi pintar ini. Amien…:)

Iklan

2 thoughts on “Bertemu Pasutri Kandidat Doktor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s