Kita tentu bertanya-tanya, kenapa konflik Palestina – Israel tidak jua kunjung reda? Padahal berbagai upaya diplomatik telah diusahakan dan dimediasi oleh berbagai pihak. Orang-orang yang berkecimpung dalam usaha perdamaian dunia, tentu merasa miris ketika perang dan pertumpahan darah terus berlangsung di belahan bumi “promise land” itu.

Prof. Dr. Yunahar Ilyas, pakar tafsir Al Qur’an lulusan Universitas Muhammad Ibnu Su’ud Saudi Arabia yang saat ini menjabat Ketua PP. Muhammadiyah, dalam satu kesempatan ceramahnya memaparkan bahwa ada dua cara untuk menghadapi Yahudi sebagaimana yang diterapkan oleh Nabi Muhammad ketika berinteraksi dengan Yahudi di Madinah. Pertama, mengajak mereka hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati kesepakatan yang sudah dibuat bersama. Jika mereka membuat rusuh dan melanggar perjanjian yang sudah ada, maka tindakan kedua yang diambil adalah mereka diusir atau diperangi. Menurut, Prof. Yunahar, kesalahan yang dilakukan oleh Yasser Arafat dan Mahmoud Abbas adalah terlalu lunak kepada Yahudi Israel, sehingga pelanggaran kesepakatan tidak direspon dengan tegas.

Terlepas dari itu, kalau kita telusuri dalil teologis baik Islam maupun Yahudi, maka peperangan di Palestina akan terus berlangsung, sampai terjadinya Perang Armageddon atau Perang Akhir Zaman. Pada saat itu orang Yahudi dipimpin oleh Messiah dari keturunan Nabi Daud (David), dan umat Islam dikomandoi oleh Imam Mahdi yang disebutkan dalam hadist memiliki garis keturunan yang sampai kepada Nabi Muhammad.

Uniknya, versi Islam mengatakan musuh mereka adalah Dajjal yang didukung oleh 70 ribu tentara Yahudi. Secara jelas dipaparkan lewat dukungan Nabi Isa, pasukan Islam memperoleh kemenangan dalam perang akhir zaman itu.

Yang mengejutkan penulis adalah ketika menemukan istilah Gog dan Magog. Awalnya penulis menemukan term ini ketika menelusuri buku “You Shall be As God” karya Erich Fromm. Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, penulis menemukan informasi yang lumayan mengagetkan.

Gog adalah nama seorang yang berkuasa atas negeri Mesekh dan Tubal. Dalam peta geografis modern negeri Mesekh dan Tubal ini melingkupi Turki, Rusia bagian selatan dan Iran bagian utara. Daerah-daerah ini merupakan daerah kawasan mayoritas berpenduduk muslim. Tentara Gog berangkat dari tanah Magog, yakni kawasan Asia Tengah yang saat ini masuk teritorial Afganistan.

Perjanjian Lama dalam Kitab Ezekial 38: 5-6 disebutkan bangsa-bangsa yang masuk dalam barisan Raja Gog, yakni: Persia (Iran), Cush (Sudan), Put (Libya), Iraq, Syria, Jordonia, dan Mesir. Semua bangsa itu adalah bangsa penganut agama Islam.

Sebutan Gog dalam Yahudi memiliki kesamaan visi dengan istilah Dajjal dalam Islam.  Artinya, masing-masing agama ini telah memposisikan diri saling berhadapan. Uniknya, dalam literatur Yahudi dikatakan bahwa pasukan Gog mengalami kekalahan mengenaskan ketika mereka hendak menyerang bangsa Israel di bumi Palestina.

Penjelasan ini, semakin menjustifikasi bahwa konflik Palestina – Israel merupakan konflik abadi yang baru akan selesai pasca Perang Armageddon. Masing-masing pihak mengklaim merekalah yang menang. Berpijak dari logika kontradiktoris, maka tidak mungkin dua hal yang berlawanan sama2 benar dalam waktu yang bersamaan, maka pertanyaan yang timbul: siapakah sebenarnya yang akan menang? Islam atau Yahudi?

Kisah prospektif tentang Dajjal dan Gog memang mengambarkan masa depan dunia yang suram. Maka beberapa pihak baik di Islam maupun beberapa kalangan Yahudi mencoba memberikan tafsiran baru terkait Dajjal dan Gog. Dua bentuk enemies ini hanyalah khayalan dari orang-orang tertentu yang masih membawa dendam lama dalam melihat interaksi antar dua agama Abrahamistik ini.

Entah tafsiran mana yang lebih benar, apakah Dajjal dan Gog benar-benar ada atau hanya kebencian yang kemudian disandarkan kepada teologi? Ya, cuma waktu yang bisa memberikan jawaban…

Salam Damai…