Alhamdulillah, pagi ini bisa kuawali dengan sholat Shubuh berjama’ah di masjid. Tiada kenikmatan bagi seorang hamba Tuhan, kecuali menunaikan ketaatan kepadaNya. Sekembali dari masjid, kucuba alunkan suara semerdu mungkin saat membaca beberapa lembar Al Qur’an.

Tadi malam tidurku nyenyak. Tak ada lagi mimpi buruk yang selalu datang ketika pikiranku amat tertekan. Mungkin karena kegembiraan menerima surat dari Greaty tadi malam, membuat alam bawah sadarku merasa tak perlu lagi memberontak.

Kubuka lagi blog, facebook, email, dan tak lupa membaca kompas online. Banyak informasi baru yang menyegarkan pikiran. Mumpun masih pagi, kucuba merangkai postingan untuk Kompasiana, blog online milik Kompas. Hingga berhasil juga aku merampungkan tulisan untuk para Kompasianers.

Semangat untuk menulis di Kompasiana yang sempat meredup beberapa waktu karena harus menyelesaikan skripsi, beberapa hari ini hadir kembali. Ada rasa senang ketika bisa berbagi wacana. Apalagi tanggapan dari pembaca begitu luar biasa tiap aku mengirimkan tulisan, paling tidak minimal 100 klik dan beberapa komentar  singgah di page Kompasiana-ku.

Saat asyik-asyik nulis, ada pesan yang masuk ke facebook-ku. Fitur pesan yang sengaja kutinggalkan pada angka 22 pada kotak masuk, sehingga ketika mencapai angka 23 aku bisa tahu, ada pesan baru yang datang. Pradugaku, paling pesan dari group-group yang kuikuti.

Ternyata tidak. Sebuah pesan baru dari Greaty. Ahhhh, hatiku terasa tak karuan. Sentuhan lembut itu kembali membelai jiwaku. Memori indah itu, kembali meliputi alam bawah sadarku. Begitu cepat Greaty membalas surat balasan yang kukirimkan kemarin malam. Pagi ini, di tengah persiapannya menuju kantor BRI, masih sempat ia menuliskan beberapa bait kata untukku.

Greaty bilang, ia akan membaca buku yang kugubah dari skripsi kemarin apabila sudah terbit. Wah, betapa bahagianya aku. Karena memang skripsi yang hendak kujadikan buku ini spesial ku persembahkan buat dirinya. Aku janji sama Greaty, setelah terbit maka orang yang terawal yang akan kukabari dan kukirimi buku ini selain orangtuaku adalah dirinya.

Ah… Bahagia malam tadi masih berlanjut di pagi ini. Ya Allah, Engkau hadirkan kegembiraan di hati ini lewat jalan yang tiada kusangka-sangka. Jika Engkau berkenan Ya Allah, jadikanlah nikmat yang indah ini abadi selamanya. Jika ada garis takdir-Mu untukku, ku mohon persatukanlah aku dengan dirinya… Amien…