Tasawuf sebagai jalan mistik mencapai realitas ilahiah menjadi tema menarik dalam kajian-kajian tazkiyatun nafs. Berorientasi pada kemampuan hati dan intuisi, tasawuf mendapatkan tempat tersendiri bagi sebagian kaum muslimin karena sisi “ektase” yang khas. Beberapa orang yang menekuni tasawuf merasakan kenikmatan ibadah dan pengalaman spiritual atas laku-laku tarekat yang mereka kerjakan. Yang terkadang, telah membuat mereka melepaskan aspek-aspek fiqhiyah dalam ibadah.

Kecendrungan meninggalkan syariat oleh beberapa pengikut tasawuf ketika merasa dirinya sudah mencapai jenjang hakikat, oleh sebagian  ulama dianggap sebagai penyimpangan atas risalah dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaikhhi wassalam. Landasan dari pendapat ini adalah, Nabi Muhammad sendiri meskipun telah dijamin masuk surga oleh Allah, namun beliau tetap mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan sunnah. Bahkan diceritakan dalam beberapa riwayat, bahwa kaki Rasulullah sampai bengkak karena “kelamaan” sholat malam.

Dalam tulisan ini, saya tidak memfokuskan jawaban pada telisik dalil-dalil baik dari pihak yang mendukung tasawuf maupun dari pihak yang mengingkari tasawuf. Karena secara pribadi saya bukan orang yang menekuni persoalan agama secara intens. Saya akan menelisik tasawuf dalam segi filsafati sebagaimana bidang ilmu yang telah saya tekuni selama menjadi mahasiwa S1.

Sebagai jalan mencapai Tuhan, tasawuf bukanlah entitas singular yang bisa dihakimi secara linear. Sebagai pengalaman batin yang bersifat subjektif, sebenarnya tasawuf sebagai bentuk mistik Islam memiliki berbagai corak dan ragam. Secara psikologis, pengalaman masing-masing orang tidak akan pernah sama. Atas dasar pertimbangan ini, penulis bisa mengatakan masing-masing orang punya pandangan tersendiri tentang laku tasawuf yang mereka kerjakan. Tapi secara umum, para ahli ataupun pengikut tasawuf mengelompokkan diri pada beberapa aliran. Paling tidak ada 3 aliran tasawuf yang sudah dikenal di Indonesia: Qadiriyah, Syadziliyah, dan Naqshabandiyah. Adapun tokoh-tokoh tasawuf yang dikenal dalam sejarah Islam antara lain: Ibn Athaillah as Sakandary, Al Muhasibi, Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Al Hallaj, Ibnu ‘Arabi, Suhrawardi, Abu Hamid al-Ghazali, dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak aliran dan tokoh-tokoh yang menempuh jalan tasawuf, paling tidak kita bisa mengelompokkan mereka pada 2 kelompok besar,

1. Tasawuf Metafisis: pandangan ini mengarahkan tujuan perjalananya mistiknya kepada penyatuan diri kepada Tuhan.  Mereka berkeyakinan bahwa realitas itu hanya satu, maka manusia sebagai “limpahan” dari “Yang Satu” harus kembali kepada-Nya. Mereka memiliki basis pemikiran ontologis Panteistik. Adapun fase penyatuan itu dikenal dengan istilah “manunggaling kawulo gusti” atau “wihdatul wujud”.

2. Tasawuf etis: pandangan ini tetap meletakkan Tuhan sebagai realitas tertinggi yang berbeda dengan manusia. Maka ektase tertinggi mereka bukanlah “penyatuan diri dengan Tuhan”, tetapi maksimalisasi sifat-sifat ilahiah dalam perilaku sehari-hari. Jadi mereka menyibukkan diri untuk melatih hati dan perilaku agar senantiasa tenang dan bersih dari bisikan syaitan sehingga bisa melakukan amalan-amalan kebaikan sebagai pengejewantahan sifat-sifat Tuhan yang maha baik.

Dua pembagian ini hanyalah salah satu alternatif dari sekian banyak kategorisasi yang disampaikan oleh para ahli terkait perbincangan tasawuf. Mudah-mudahan tulisan saya bisa memberikan informasi baru bagi para pembaca dalam melihat tasawuf Islam.

NB: Tulisan ini terinspirasi dari seminar proposal penelitian Kang Rofi (senior saya di Filsafat UGM) dengan dosen ahli bapak Drs. Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum, yang diadakan pada Senin 11 Januari 2009.

Iklan