Kemarin, teman-teman asrama kembali melepas seorang sahabat. Enji, angkatan 2008 yunior 6 tahun di bawahku. Ia terpaksa pulang, karena dianggap tidak serius kuliah oleh kakaknya. Bersandarkan IP dua semester, sang kakak yang membiayai kuliahnya, mengambil keputusan untuk mengirimnya kembali pulang kampung. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Enji di kampung. Tapi satu hal yang pasti, kami kembali kehilangan saudara yang telah begitu akrab dengan talenta seni dan olahraga yang mumpuni.

Aku kenal dekat dengan kakaknya. Karena akulah yang membawa sang kakak pertama kali ke asrama. Bertemu di bis Handoyo selepas menghabiskan libur lebaran tahun 2002. Aku begitu kagum dengan semangat juang dan kerja keras kakak Enji itu. Tak salah, saat ini dia telah sukses dengan bisnis warnet dan elektronik yang telah ditekuninya sejak awal kedatangan di Jogja. Berstatus sebagai lulusan D3 Ekonomi Politeknik Unand, minatnya kepada hal-hal elektronik begitu luar biasa.

Mungkin obsesi dan peluang yang besar di bidang elektronik-lah yang membuat sang Kakak, memasukkan Enji di jurusan Teknik Informatika sebuah perguruan tinggi kenamaan di Jogja. Jurusan sulit dengan mata kuliah – mata kuliah serba berat kecuali bagi mereka yang punya basic matematika yang kuat dan kemauan untuk belajar yang gigih.

Tak dibekali komputer dan budget pembelian buku, akhirnya Enji hanya melalui kuliah 2 semester dengan hasil mengecewakan. Jadilah ia masuk dalam list warga asrama yang gagal sebelum selesai wisuda.

Dalam tulisan ini, aku tidak sedang menjudge Enji dengan kegagalannya. Tapi aku begitu kasihan dengan kondisi yang dialaminya. Ia tak lebih korban obsesi sang kakak. Tidak hanya mengabaikan kebutuhan primer seorang mahasiswa Informatika, tapi lebih dari itu mengabaikan potensi alamiah dan bakat yang dimiliki oleh sang adik.

Kadang aku berpikir, jika sang kakak mau sedikit bicara dari hati ke hati, menanyakan sebenarnya Enji mau kuliah di jurusan apa, dan mau mengenal sedikit karakter adiknya itu, seharusnya kepulangan awal ini tak perlu terjadi.

Melihat kemampuan Enji di bidang musik dan keterampilannya merangkai kata, agaknya Enji lebih cocok kuliah di fakultas sastra, bukan teknik informatika. Tapi apalah, keputusan telah dibuat oleh sang kakak. Enji meninggalkan Jogja siang kemarin.

Asrama kembali kehilangan warganya yang baik. Team futsal asrama kehilangan bek tangguh yang sigap menyapu bola dari kebobolan. Band asrama kehilangan gitaris berbakat. Hiruk-pikuk asrama, kehilangan nyanyian sendu yang sering dilagukannya…

Tulisan ini bukan bermaksud memaparkan aib orang kepada khalayak. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan sebuah pesan kepada orang tua dan kakak-kakak yang sedang menyekolahkan anak – adiknya di perguruan tinggi, cobalah kenali potensi mereka dan bicara dari hati ke hati, agar tak terjadi pengorbanan seseorang atas dasar obsesi pribadi.

Tidak ada jurusan istemewa. Yang ada hanyalah orang punya kecendrungan dan bakat tersendiri. Maka orang yang hebat adalah orang yang mampu memaksimalkan talenta yang ada dalam dirinya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bukan orang yang merasa seperti robot karena represi dari orang-orang yang “merasa” sayang dengan masa depannya.

Iklan