Alhamdulillah, kuucap syukur kehadirat Allah nan telah memberikan nikmat teramat besar padaku hari ini. Melewati ujian terberat bagi seorang mahasiswa, pendadaran skripsi. Kalau mau dikatakan berat, kayaknya ngak juga. Meskipun diuji oleh 4 orang dosen, tapi kok tadi masih bisa senyum-senyum aja. Ngak tahu juga kenapa. Mungkin karena senyum bu Septiana dan dukungan pak Agus Himawan, membuatku enjoy-enjoy aja melewati satu jam-an di kursi panas ruang pendadaran.

Harus kuakui, saat ujian tadi aku ngak maksimal menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji. Aku ngak tahu, kenapa lisanku ngak bisa diajak kompromi. Terlalu sering memakai bahasa Minang, membuat sense bahasa Indonesiaku jadi amburadul. Jadinya, kosa kata yang terucapkan agak kurang sistematis.

Terlepas dari kekakuan lisan, secara umum ujian berlangsung lancar. Tak ada wajah killer dari dosen penguji. Malahan senyuman yang aku dapatkan. Jadinya ngak ngogi deh..:) Meskipun aku belum tahu meraih nilai apa, paling tidak bu Septi sudah mengindikasikan ke arah positif. Dapat B aja sudah cukup mempertahankan IPK 3,5 yang kugengam saat ini.

Tinggal sedikit revisi terkait 2 tema yang minta ditambah oleh dosen penguji. Hanya additional saja, karena skripsiku ngak digugat sama sekali. Ya, senang rasanya. Apalagi bu Septi, bangga dengan kerja yang telah kulewati.

Cuma malam ini, ada saja gelisah yang menderaku. Terkait purna wisuda bulan februari nanti. Mau tak mau status baru akan disandang, penganguran. Status yang teramat berat untuk dipikul. Masa depan masih kabur dalam pikiranku. Entah kemana ijazah filsafat UGM bisa kulegakan???

Duh, kepalaku jadi pusing lagi. Pikiranku kalut lagi. Pinginnya lanjut s2 aja. Biar semakin besar peluang jadi dosen. Tapi ngak tahu apakah bapak mau mengabulkan proposalku untuk ambil s2.

Aku pusing…