Menunggu matahari tenggelam. Meskipun hanya memandang langit lewat jendela kamar. Semilir angin, hantar sejuk menerobos menerpa wajah ini. Betapa kuingin duduk di tepi pantai. Ditemani ombak nan menerpa tepian. Pandangi lautan luas, dengan beberapa pulau nan nampak hijau dari kejauhan.

Inilah detik-detik menuju hari pendadaran skripsi. Hampir 7,5 tahun aku berada di Jogja. Perjuangan hidup demi meraih gelar sarjana, dari Universitas Gadjah Mada. Hanya ijazah UGM yang bisa membuatku pulang kampung. Karena begitulah agreement dengan Bapak yang kubuat 3 tahun lalu, saat kepulangan terakhir ke Ranah Minang.

Meskipun Jogja telah akrab dalam keseharianku, tapi tetap saja kampung halaman memanggil lewat suara lirihnya. Aku tetap merasa asing di sini. Merasa asing dengan diriku. Merasa asing dengan orang-orang di sekitarku. Tapi keterasingan inilah yang membuatku terus berpikir.

Keterasingan adalah takdir yang tak bisa dihindari manusia. Ia selalu diliputi kecemasan. Menghadapi masa depan dunia dan menghadapi keabadian akhirat. Harus meneruskan hidup, seraya mengabdi kepada Tuhan.

Perantauan, mengenal orang-orang baru, mengalami situasi baru-lah yang membuat hidup terasa dinamis. Terasa berwarna. Lewat cinta yang tulus lagi tak memaksa, manusia bisa memaknai dunia lebih dalam. Tak terjebak dalam amarah yang membuat pikiran tak lagi sehat.

Aku tak tahu, apakah bulan-bulan ini adalah hari-hari terakhir di Jogja? Kemudian terbang dibawa takdir, di belahan dunia yang tiada dapat kuduga. Mungkin benar, hidup tak lebih dari misteri. Manusia hanya bisa bermimpi dan berusaha untuk merealisasikannya.

Kucuba untuk meneruskan kata demi kata lagi. Tapi pikiran terhenti, sulit untuk melanjutkan. Sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Kusudahi tulisan ini…