Journey to Budha’s Vihara of Mendut


Minggu 13 Desember 2009, bersama dengan dosen pengampu Filsafat Perennial, Bapak Dr. Arqom Kuswanjono dan teman-teman yang mengambil mata kuliah baru di fokus Agama dan Religi Fakultas Filsafat UGM ini, penulis melakukan perjalanan ke Magelang. Perjalanan kali ini merupakan kuliah lapangan dalam rangka pencapaian salah satu tujuan kuliah Filsafat Perennial, yakni memahami the others. Tempat yang dituju adalah Vihara Budha Mendut yang berada persis di sebelah Candi Mendut. Menurut informasi yang penulis dapatkan dari wikipedia, vihara yang terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, beberapa kilometer dari candi Borobudur ini, dahulunya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950-an.

Setelah melewati perjalanan mengasyikkan kurang lebih satu jam-an, akhirnya rombongan kami sampai di lokasi. Oleh petugas Vihara, kami langsung diantar ke ruangan khusus tamu dimana Bhikhu Jotidammo sudah menunggu. Pak Arqom yang sudah kenal baik, langsung menyalami beliau. Bhikhu Jotidammo adalah alumni S2 dan S3 Program Pascasarjana Filsafat UGM.

Pada bagian selanjutnya, penulis akan menyampaikan beberapa rekaman dialog yang kami lakukan dengan Bhikhu Jotidammo. Bhikhu memulai ceritanya dengan latar belakang kehadiran agama Budha. Tradisi Brahmanisme, dan Upanisad yang kental mewarnai keberagamaan Hindu di India dicirikan dengan beberapa hal, peran kaum Brahmana yang dominan, dan sistem kasta teramat ketat.

Siddhartha Gautama, pendiri Agama Budha adalah seorang pangeran, anak dari Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya yang berkuasa di India bagian Utara. Sidharta yang kemudian dikenal sebagai Sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna), hadir mengkritik situasi keagamaan Hinduisme yang menurutnya sangat diskriminatif. Sidharta yang lahir dengan kecerdasan luar biasa melakukan kritik terhadap Upanisad. Ia memberikan pengertian/tafsiran baru dengan menolak sebagian dan menerima sebagian ajaran Upanisad. Ajaran sang Budha ini, kemudian mendapat tempat di hati kaum Ksatria yang merupakan kasta kedua setelah Brahmana.

Budhisme seperti agama-agama lainnya yang lahir di tanah Hindustan, sangat konsen dengan ajaran spiritual bernuansa mistik. Dimana kaum pertapa mendapat tempat khusus. Budhisme menolak ritual keagamaan dalam bentuk upacara-upacara persembahan pada Dewa khususnya Yat-nya (upacara korban). Bahkan lebih jauh dari itu, Budhisme menolak keberadaan Dewa-Dewa, karena dianggap membuat manusia tidak berdaya. Bagi Budhisme, kebahagiaan dan penderitaan yang dialami manusia tergantung kepada perbuatan yang mereka lakukan. Selain itu, Budhisme menolak habis-habisan sistem kasta, dengan landasan kesucian seseorang tidak tergantung kepada kelahiran.

Setelah Sang Budha meninggal, pengaruh Hinduisme menyertai pengembangan ajaran Budhisme. Salah satu pengaruh itu adalah pembuatan Arca Budha. Telah familiar bahwa orang-orang Hindu suka membuat patung-patung. Ini dapat disaksikan pada berjibunnya patung-patung Dewa-Dewa dengan berbagai rupa yang menghiasi ritual Hinduisme. Menurut penelitian sejarah, patung Budha baru muncul 500 tahun setelah Budha meninggal dunia. Bagi penganut Budhisme, patung Budha yang ada di berbagai tempat hanyalah karya seni yang tidak berpengaruh besar dalam peribadatan yang mereka lakukan. Bahkan kalau diperhatikan dengan seksama, wajah patung Budha berlainan antara satu tempat dengan tempat yang lain. Patung Budha di Indonesia mirip dengan face Melayu. Sementara patung Budha di Cina mirip dengan face Mongoloid. Begitu juga dengan patung-patung Budha di tempat lain.

Sebagaimana telah disinggung di atas, dalam perkembangannya, ajaran Budha mendapat pengaruh dari aliran atau falsafah hidup tempat Budhisme tersebar seperti pengaruh Hinduisme, Konfusianisme dan Taoisme. Di Cina misalnya, aspek-aspek asketis Budhisme mulai ditinggalkan dan lebih fokus kepada aspek-aspek sosial.

Budhisme, sebagai agama tua yang telah berusia 2500 tahun memang mengalami dinamika dan beberapa sekte cendrung meninggalkan ajaran asli dari Sidharta. Hal ini tidaklah menjadi hal yang memusingkan bagi penganut Budhisme, karena sifat keterbukaan sangat ditekankan pada agama ini. Budhisme mengajarkan kebenaran diperoleh lewat pengalaman (experience). Budha mengatakan semua orang bisa mendapatkan pencerahan dan kebenaran sebagaimana yang pernah ia dapatkan. Pencerahan adalah sebuah pengalaman yang tidak bisa diceritakan. Ibarat mendeskripsikan manisnya gula, maka pengalaman religius dipersilahkan untuk dirasakan masing-masing orang.

Sifat keterbukaan ajaran Budha membuka kesempatan bagi setiap orang merasakan pengalaman yang berbeda. Hal ini melahirkan banyak interpretasi sehingga melahirkan berbagai aliran. Untuk kepentingan organisasi, sekian banyak aliran itu dapat dipilah menjadi dua tren utama, Budhisme Utara dan Budhisme Budhisme Selatan. Budhisme Utara meliputi kawasan Tiongkok, Tibet, Jepang dan Korea. Budhisme Utara ini mempunyai corak modern (sangat apresiatif dengan kondisi daerah setempat dan perkembangan mutakhir) dan disebut dengan aliran MAHAYANA. Sementara Budhisme Selatan meliputi kawasan Thailand, Birma, Srilangka, Laos, Kamboja dan Indonesia. Budhisme Selatan pada umumnya beraliran ortodoks/konservatif atau dikenal juga dengan sebutan THERAVADA. Mereka cendrung mengembalikan cara keberagamaannya kepada apa yang diajarkan oleh sang Budha pada awal kelahiran Budhisme.

Tema utama ajaran Budha adalah penderitaan (suffering). Sidharta tak sanggup melihat penderitaan yang dialami manusia. Iapun kemudian mengembara, keluar dari istana untuk mencari jawaban kenapa manusia menderita dan solusi agar lepas darinya? Pada awalnya, Budha berguru kepada pertapa-pertapa yang ada di hutan. Sebagaimana penulis sempat singgung di atas, di India sangat berkembang laku-laku mistik yang dijalani oleh pertapa-pertapa. Lama belajar kepada para pertapa, tapi Sidharta tidak menemukan jawaban atas kegelisahannya tentang penderitaan. Kemudian ia memutuskan oleh bersemedi sendiri. Suatu waktu, ketika Sidharta sedang melakukan merenung sambil duduk di pohon Bhodi, ia mengalami ekstase yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kejadian itu kemudian dikenang sebagai fase pencerahan sang Budha. Sidharta mengajarkan kesederhanaan. Manusia harus menghindarkan diri dari dua titik ekstrem, bahagia yang kelewatan dan penderitaan yang kelewatan.

Setelah membahas secara singkat mengenai ajaran Budhisme, penulis akan masuk pada pembahasan pandangan agama Budha terhadap agama-agama lain. Konon dalam sejarah diceritakan suatu hari Sidharta sedang berjalan-jalan di hutan. Diambilnyalah beberapa helai daun dari pohon. Kemudian Sidharta berujar, “daun yang saya gengam di tangan ini hanyalah sebagian kecil dari daun yang ada di hutan.” Kisah ini bisa dimaknai sebagai keinsyafan Sidharta bahwa kebenaran itu sangat banyak dan luas. Sementara seruan yang ia sampaikan hanyalah sebagian dari kebenaran yang beraneka-ragam itu.

Bagi Budhisme, tiap-tiap agama, filsafat hidup, dan ilmu pengetahuan memiliki unsur-unsur kebenaran. Sikap pluralis ini diikuti oleh tidak adanya istilah khusus untuk orang-orang non- Budha. Apabila suatu penganut agama beribadah dengan sunguh-sunguh maka mereka akan memperoleh kebenaran dan kebahagiaan.

Budhisme berkeyakinan bahwa orang menganut agama tertentu dikarenakan buah karma. Ada sebuah ajaran yang dikenal dengan tum mimba lahir, yang berarti seseorang setelah meninggal dunia akan lahir kembali. Surga hanyalah salah satu dari bentuk kelahiran kembali itu. Yang ditekankan oleh Budhisme adalah bagaimana manusia berbuat baik.

Konsep surga dan neraka bukanlah konsep final. Tujuan akhir dari penganut Budhisme adalah nirvana. Sangat sulit untuk mengambarkan bagaimana rupa ataupun keadaan nirvana itu. Tapi itu adalah ekspektasi tertinggi yang diimpikan oleh setiap penganut Budhis. Nirvana bisa dicapai melalui Jalan Mulia berfaktor delapan, yaitu:
1. Wisdom, meliputi pengertian yang benar dan kehendak yang benar.
2. Moral/Sila, meliputi perbuatan, ucapan, dan mata pencaharian.
3. Meditasi, meliputi semangat, perhatian, dan konsentrasi.

Meditasi merupakan unsur yang penting dalam ajaran Budhisme. Meditasi mewarnai seluruh peribadatan Budhisme. Iman menurut Budhisme bukan ditentukan oleh kepasrahan tapi pada meditasi, dimana kepercayaan diperoleh melalui kesadaran. Meditasi merupakan proses mengendalikan pikiran. Lewat meditasilah kesempurnaan iman bisa dicapai. Orang yang bermeditasi dengan benar akan mencapai kesadaran sehingga lebih waspada, lebih tahu, lebih mengerti tentang sesuatu, memperoleh pemahaman yang jernih akan kehidupan.

Iklan

3 thoughts on “Journey to Budha’s Vihara of Mendut

  1. wow…amazing
    oya..salam perkenalan dulu. Saya Wening, mahasiswa sosiologi fisip UNS, kebetulan saat ini sedang menulis ttg sinkretisme religius jawa dan budha.
    Terus terang tulisan di atas sangat bermanfaat bwt saya, dan kalau boleh saya ingin menimba ilmu lagi dengan berdialog dg Bapak/Mas Gunawan…ya kalo boleh sih, heheh…

  2. Setuju sekali pak, semua yang Anda tuangkan dalam artikel ini memang sangat baik apabila kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tulisan ini juga merupakan suatu bahan bagi kami untuk kami sampaikan kepada pemahat patung budha sehingga mereka bisa “lebih tajam” lagi dalam berkarya menghasilkan patung-patung budha.

  3. Saya sering kali heran,dalam konteks negara agama menjadi dinomor duakan dibandingkan kepala negara,sementara agama merupakan dari Tuhan Allah YME

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s