Mungkin engkau tidak mengerti betapa aku ingin membangun rumah tangga denganmu. Telah terbesit sebuah harapan untuk belajar agama bersama. Aku masih ingin belajar bahasa Arab dan menambah hafalanku. Aku ingin dari rahim-mulah anak-anakku lahir. Dari seorang ibu yang baik lagi sholehah. Betapa kuingin anak-anakku nanti bisa sekolah di Timur Tengah sebagaimana yang telah dijalani oleh Ayah dan Kakak-Kakakmu.

Namun, impianku terbang bersama angin. Engkau mengatakan kita sungguh jauh berbeda. Aku tak lebih sebagai orang liberal di hadapanmu. Orang yang tak tahu agama. Engkau mengatakan orientasiku hanya dunia saja. Sementara engkau menyatakan dirimu sebagai gadis yang berorientasi pada pengabdian kepada Allah.

Sungguh, begitu hinakah diriku di matamu. Sejak keluar dari Salafi, aku telah ikrarkan bahwa biarlah ibadah yang kulakukan dinilai oleh Allah saja. Aku tak akan mengumbar kesholehan  melalui media-media yang bisa dibaca publik. Aku ingin terlihat menjadi orang biasa saja. Tiada lagi simbol-simbol agama yang telah membuatku begitu pongah dan meremehkan orang lain.

Aku takkan merubah prinsipku ini. Aku tetap menjadi orang biasa seraya kutambah sedikit demi sedikit ilmu agamaku.

Engkau katakan bahwa bukan Greaty yang menyebabkan engkau tak bisa ta’aruf denganku. Entah berapa kali aku menuliskan nama Greaty di blog ini. Bahkan Greaty-lah yang menjadi warna dan inspirasi blog ini.

Sekarang Greaty sudah jadi masa laluku. Ku cuba untuk mendekatinya lagi. Jangankan untuk berbicara, sekedar permintaan sebagai teman di facebook saja tiada dia kabulkan.

Tiadakah engkau tahu, betapa aku hancur dengan sikap Greaty ini. Tapi aku tidak ingin mati. Aku masih punya masa depan untuk meneruskan hidup yang diberikan Tuhan kepadaku. Merajut hari esok yang lebih baik, lepas dari masa lalu pahit yang kudera.

Engkau telah membuat justifikasi berdasarkan apa yang kutulis di blog ini. Aku tiada menyalahkan. Karena memang benar blog ini tempat aku mencurahkan perasaan. Bisa dibaca setiap orang. Tapi bukan berarti semua hidupku telah terekam dalam rangkaian kata-kata yang telah kutulis sejak tahun 2006 yang lalu. Masih ada sisi-sisi diri yang tertutup.

Sekarang, engkau telah membuat keputusan. Aku tak akan menganggu gugat. Inilah takdirku. Mengharap cinta kepada orang yang teramat kucinta tiada bisa. Mengharap cinta yang baru, aku pun tak kuasa. Biarlah, semua berjalan sebagaimana skenario Tuhan atas diriku. Aku akan tabah dan rela menerima…

 

Iklan