Tindakan dan Perilaku manusia sesungguhnya didorong oleh desakan libidinal yang internal berada dalam diri manusia. Begitulah pandangan Sigmund Freud seorang tokoh psikoanalisa yang terkenal dalam keilmuan psikologi. Menyandarkan apa yang diperbuat manusia kepada dorongan seksualitas, tentu sebuah pemikiran yang teramat ekstrem. Apalagi jika kita membaca Karl Marx yang melihat tingkah manusia karena faktor lingkungan yang berada di sekelilingnya.

Terlepas dari perdebatan panjang antara nature dan nurture, satu hal yang tak bisa kita pungkiri adalah setiap manusia normal memiliki hasrah seksual. Entah seorang alim dengan pakaian serba tertutup ataupun seorang “model” yang pakaian serba terbuka, semuanya tak bisa lepas dari seks. Cuma bedanya, ada yang menjadikan seks sebagai wilayah tertutup karena “jaim” dan ada yang menjadikan seks sebagai ruang terbuka yang boleh dibicarakan kapan dan dimana saja.

Bahkan kejaiman para agamawan atau orang-orang sholeh untuk membicarakan seks ketahuan belangnya ketika fenomena poligami banyak terjadi pada komunitas yang dianggap punya otoritas kebenaran ini. Memang agak sulit kita membawa perbincangan seks dalam ranah etika. Apakah kiyai yang mengucapkan astaghfirullah ketika melihat aurat wanita tapi getol dengan poligami lebih baik secara etika daripada seorang penjahat kelamin yang punya jadwal tetap mengunjungi tempat-tempat prostitusi? Ya, sulit bagi kita untuk menentukan mana yang lebih baik, kecuali telah punya paradigma ideologi tertentu untuk menghakimi ini.

Saya tidak akan masuk dalam kajian lebih jauh tentang hubungan seksual, karena terus belum punya pengalaman untuk hal-hal demikian. Status lajang dengan track record sebagai pemuda yang belum pernah berpacaran termasuk belum pernah berciuman dengan lawan jenis (apalagi melakukan hubungan lebih jauh), tentu saya sangat awan dengan experience terkait masalah “masuk-memasukkan” ini.

Namun, dalam tulisan ini saya hendak memaparkan sedikit tentang fantasi seksual yang sangat kuat mengelayuti anak-anak muda seumuran saya yang belum bisa menikah. Apalagi di tengah kemajuan internet yang sangat memungkinkan untuk mengakses situs-situs porno dengan berbagai macam ragamnya.

Ada pengalaman pribadi yang ingin saya share-kan di sini terkait fantasi seksual. Pada saat saya punya hubungan intens dengan seorang wanita (masa-masa pdkt, tapi semua berakhir di tengah jalan), saat itu pikiran saya diwarnai oleh hal-hal yang romantis. Tapi jarang muncul pikiran-pikiran nakal atau fantasi-fantasi yang biasa terjadi saat mimpi basah. Yang dominan malahan upaya untuk memahami seorang wanita, sosok yang berbeda dengan keberadaan saya sebagai pria.

Di kesempatan lain, saat saya be-te dengan wanita, bahkan benci dengan wanita karena sikap egois dan sikapnya tak yang ngak jelas, pada periode itulah, fantasi liar seksual saya menjadi-jadi. Bahkan melangkah pada hipotesis ekstrem, “wanita tak lebih objek pelampiasan hasrat birahi laki-laki”.

Dalam sadar, sering saya merenung tentang dua hal yang berlawanan ini. Telah saya cuba cari referensi untuk menjawab, tapi belum jua saya dapatkan. Hanya sebuah hipotesis awal yang bisa saya kemukakan, “jika hubungan yang terjalin antara pria dan wanita dilandasi rasa cinta dan kasih sayang, maka seks bukanlah hal utama. Sehingga jika suatu saat pasangan ini mengalami gangguan seksual (Disfungsi Ereksi, Kemandulan, dll) maka itu bukanlah pemicu tercerai-berainya hubungan). Namun, apabila hubungan yang dijalin bukan atas dasar cinta, dan hanya sekedar pesona dunia belaka, maka yang terjadi adalah menjadikan pasangan sebagai objek pelampiasan hasrat seksual belaka. Jika pemenuhan biologis ini tidak terpenuhi, maka perpisahan akan sangat mudah diambil sebagai solusi ketidakharmonisan”.

Ah, ini hanyalah praduga saya saja yang masih belum berpengalaman dalam hal beginian. Tapi cukuplah menjadi sebuah opini yang bisa saya diskusikan dengan para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah mengalami fase pernikahan. Tulisan ini hanyalah sekedar iseng-iseng belaka, setelah saya vakum cukup lama di Kompasiana, karena harus berkutat dengan skripsi yang cukup memusingkan kepala. Buat para Kompasianers mohon do’anya agar saya bisa lulus Februari 2010 esok. Makasi…:)

Tindakan dan Perilaku manusia sesungguhnya didorong oleh desakan libidinal yang internal berada dalam diri manusia. Begitulah pandangan Sigmund Freud seorang tokoh psikoanalisa yang terkenal dalam keilmuan psikologi. Menyandarkan apa yang diperbuat manusia kepada dorongan seksualitas, tentu sebuah pemikiran yang teramat ekstrem. Apalagi jika kita membaca Karl Marx yang melihat tingkah manusia karena faktor lingkungan yang berada di sekelilingnya.

Terlepas dari perdebatan panjang antara nature dan nurture, satu hal yang tak bisa kita pungkiri adalah setiap manusia normal memiliki hasrah seksual. Entah seorang alim dengan pakaian serba tertutup ataupun seorang “model” yang pakaian serba terbuka, semuanya tak bisa lepas dari seks. Cuma bedanya, ada yang menjadikan seks sebagai wilayah tertutup karena “jaim” dan ada yang menjadikan seks sebagai ruang terbuka yang boleh dibicarakan kapan dan dimana saja.

Bahkan kejaiman para agamawan atau orang-orang sholeh untuk membicarakan seks ketahuan belangnya ketika fenomena poligami banyak terjadi pada komunitas yang dianggap punya otoritas kebenaran ini. Memang agak sulit kita membawa perbincangan seks dalam ranah etika. Apakah kiyai yang mengucapkan astaghfirullah ketika melihat aurat wanita tapi getol dengan poligami lebih baik secara etika daripada seorang penjahat kelamin yang punya jadwal tetap mengunjungi tempat-tempat prostitusi? Ya, sulit bagi kita untuk menentukan mana yang lebih baik, kecuali telah punya paradigma ideologi tertentu untuk menghakimi ini.

Saya tidak akan masuk dalam kajian lebih jauh tentang hubungan seksual, karena terus belum punya pengalaman untuk hal-hal demikian. Status lajang dengan track record sebagai pemuda yang belum pernah berpacaran termasuk belum pernah berciuman dengan lawan jenis (apalagi melakukan hubungan lebih jauh), tentu saya sangat awan dengan experience terkait masalah “masuk-memasukkan” ini.

Namun, dalam tulisan ini saya hendak memaparkan sedikit tentang fantasi seksual yang sangat kuat mengelayuti anak-anak muda seumuran saya yang belum bisa menikah. Apalagi di tengah kemajuan internet yang sangat memungkinkan untuk mengakses situs-situs porno dengan berbagai macam ragamnya.

Ada pengalaman pribadi yang ingin saya share-kan di sini terkait fantasi seksual. Pada saat saya punya hubungan intens dengan seorang wanita (masa-masa pdkt, tapi semua berakhir di tengah jalan), saat itu pikiran saya diwarnai oleh hal-hal yang romantis. Tapi jarang muncul pikiran-pikiran nakal atau fantasi-fantasi yang biasa terjadi saat mimpi basah. Yang dominan malahan upaya untuk memahami seorang wanita, sosok yang berbeda dengan keberadaan saya sebagai pria.

Di kesempatan lain, saat saya be-te dengan wanita, bahkan benci dengan wanita karena sikap egois dan sikapnya tak yang ngak jelas, pada periode itulah, fantasi liar seksual saya menjadi-jadi. Bahkan melangkah pada hipotesis ekstrem, “wanita tak lebih objek pelampiasan hasrat birahi laki-laki”.

Dalam sadar, sering saya merenung tentang dua hal yang berlawanan ini. Telah saya cuba cari referensi untuk menjawab, tapi belum jua saya dapatkan. Hanya sebuah hipotesis awal yang bisa saya kemukakan, “jika hubungan yang terjalin antara pria dan wanita dilandasi rasa cinta dan kasih sayang, maka seks bukanlah hal utama. Sehingga jika suatu saat pasangan ini mengalami gangguan seksual (Disfungsi Ereksi, Kemandulan, dll) maka itu bukanlah pemicu tercerai-berainya hubungan). Namun, apabila hubungan yang dijalin bukan atas dasar cinta, dan hanya sekedar pesona dunia belaka, maka yang terjadi adalah menjadikan pasangan sebagai objek pelampiasan hasrat seksual belaka. Jika pemenuhan biologis ini tidak terpenuhi, maka perpisahan akan sangat mudah diambil sebagai solusi ketidakharmonisan”.

Ah, ini hanyalah praduga saya saja yang masih belum berpengalaman dalam hal beginian. Tapi cukuplah menjadi sebuah opini yang bisa saya diskusikan dengan para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah mengalami fase pernikahan. Tulisan ini hanyalah sekedar iseng-iseng belaka, setelah saya vakum cukup lama di Kompasiana, karena harus berkutat dengan skripsi yang cukup memusingkan kepala. Buat para Kompasianers mohon do’anya agar saya bisa lulus Februari 2010 esok. Makasi…:)