Bergulat dengan Facebook memang mengasyikkan. Selain bisa bernarsis ria, juga bisa terus memonitoring teman-teman lama. Bukan sok berlagak seperti psikolog, tapi cuma belajar menerapkan teori-teori prilaku yang pernah kubaca di sela-sela waktu senggang kuliah.

Salah satu hal yang paling kuperhatikan adalah wall Facebook teman-teman yang sekarang sudah bekerja. Terutama yang sudah jadi abdi negara, alias PNS. Sebuah pekerjaan yang diincar dan diimpikan oleh kebanyakan lulusan perguruan tinggi. Pekerjaan yang menjanjikan secara status sosial dengan jaminan hidup sampai mati.

Bulan ini adalah momen yang ditunggu oleh para jobseeker, apakah peruntungan mereka mengikuti test CPNS beberapa waktu yang lalu menghasilkan ending yang indah? Jika tak diterima, terpaksalah kembali mencari kerja. Apabila diterima, tentu bersiap-siap membeli baju baru untuk dipakai saat dinas hari pertama.. He2.. He2..

Pertanyaan menarik yang hadir dipikiranku adalah apakah memang berhasil diterima sebagai PNS berarti meraih “surga dunia”? Akan hidup enak dengan kerja yang ngak berat-berat amat, tanpa resiko pemecatan kecuali berbuat pelanggaran hukum dan asusila. Menikmati gaji bulanan yang teratur, ditambah jalan-jalan gratis karena tugas kantor. Punya bargaining position yang baik untuk mencari pasangan hidup, karena calon mertua tentu kesemsem sama orang berpakaian dinas dengan jenjang karir birokratis yang menjanjikan.

Dari pengamatanku terhadap status facebook teman-teman yang sudah jadi PNS, ternyata fasilitas, reward, dan atribut yang melekat pada PNS tidak serta-merta membuat mereka lepas dari keluh-kesah. Kupikir ini hanya fenomena akhir bulan. Dimana uang semakin menipis di dompet, hingga terkadang harus minjam uang tetangga untuk “melanjutkan hidup”.

Eh, setelah kucermati lagi saat awal-awal bulat, persis setelah gaji diberikan, tetap saja status marah dan kesal menghiasi facebook mereka. Ternyata masalahnya bukan masalah uang. Ada yang bete karena disuruh-suruh sama atasan. Ada yang marah diminta melakukan ini dan itu, padahal rekan sekantor asyik-asyik aja ngobrol dan baca koran. Ada yang stress karena mesti membuat laporan fiktif pesanan dari kepala kantor. Btw, masalahnya terletak pada suasana kerja.

Kondisi patologis psikis ini terutama melanda para fresh graduate. Mereka yang masih membawa idealisme kampus, terkadang mati kutu menghadapi situasi rumit yang jauh dari dambaan. Pingin melakukan perubahan, tapi tak punya kekuasaan karena masih jadi “anak baru” di tengah para PNS tua yang sudah makan asam garam puluhan tahun. Mereka cuba terus bertahan, satu tahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun hingga terbiasa dengan pola rutinitas ala pegawai negeri. Kadang sifat kritis mereka lebur. Yang penting posisi saya aman dan pangkat bisa terus naik, telah menjadi pilihan kompromis. Beberapa yang masih kuat dan menjunjung tinggi semangat anti birokratis, pada akhirnya menjadi kaum minoritas bahkan tersingkir dari pergaulan sesama rekan kerja.

Fenomena ini pernah disitir oleh Erich From, seorang psikolog berdarah Yahudi. Menurut Fromm, “Manusia yang dibekap oleh rutinitas dan terpola dalam cara pikir birokratis, tak mampu memunculkan ide-ide dan terobosan-terobosan baru yang memberikan sumbangan agar perkembangan sistem semakin produktif” (Erich Fromm dalam Revolusi Harapan hal 45).

Hal ini dapat lihat, pada fenomena, semakin banyaknya PNS (bahkan pemerintah merasa terbebani untuk membiayai gaji dan tunjangan mereka) tapi tak berkorelasi pada peningkatan pelayanan pada masyarakat. Sebagian pengamat sosiologi bahkan secara sinis mengatakan “PNS itu termasuk pengangguran. Karena mereka hanya menghabiskan waktu efektif 3-4 jam/hari untuk bekerja. Itupun dengan waktu libur mengenakkan selama 2 hari dalam satu pekan. Padahal seseorang dikatakan bekerja, jika menghabiskan 8 jam/hari.”

Maka tak salah, meskipun kantor-kantor pemerintah diisi oleh PNS dari berbagai lulusan perguruan tinggi terbaik, tetap saja bekerja secara monoton. Tak sebaik dan sekreatif para pegawai perusahaan BUMN (mohon dikoreksi apakah pegawai BUMN masuk PNS atau tidak)  dan swasta yang dituntut untuk terus berinovasi jika ingin terus dipertahankan oleh bos. Jam kerja dua tipe pekerja ini relatif sama. Dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Namun, energi PNS yang hanya bekerja efektif 3-4 jam sudah sangat terkuras sehingga tak mampu menghasilkan ide-ide baru dan visioner untuk memperbaiki institusi.

Aku masih belum bisa memberikan jawaban, apakah enak jadi PNS? Coz, jangan-jangan aku malah jadi PNS setelah wisuda nanti? Ha2…