Inna lillahi wainna ilaihi rajiun… Telah berpulang ke rahmatullah Mak Pit (Amak Si Era) di kampung jam setengah 6 sore tadi…

Itulah sms dari Bapak yang dikirimkan menjelang jam 11 malam Sabtu 28 November yang lalu. Mak Pit, begitulah aku memanggil Kakak Tertua Ibuku itu, telah meninggal dunia. Aku tak tahu persis nama lengkap beliau. Tapi Mak Pik adalah sosok yang amat dekat denganku saat masih di kampung dulu.

Beliau adalah sosok Ibu yang kuat. Aku tak tahu persis pendidikan Mak Pik. Namun nasibnya tak sebaik saudara-saudaranya yang lain. Tak sebaik nasib Ibuku yang bisa menjadi Guru hingga meraih golongan 4a saat ini. Pekerjaan sehari-harinya berjual makanan ringan yang dijajakan di terminal dan pom bensin Sicincin Pariaman yang tak jauh dari rumah.

Sering aku perhatikan saat pulang kampung ke Pariaman, jam 2 dinihari beliau sudah bangun. Padahal baru tidur jam 10-11 malam karena keletihan mempersiapkan adonan untuk dimasak di tengah dinginnya dinihari. Siang harinya, setelah berjubel menjajakan makanan, beliaupun pulang memasak buat 5 anaknya (perempuan semua) dan untuk suaminya yang bekerja di sawah belakang rumah. Menggarap sawah kepunyaan Kaum sesuku, sekalian beternak kerbau.

Beberapa bulan terakhir Mak Pit sakit-sakitan. Untunglah anak-anaknya sudah besar dan 2 orang sudah menikah. Hingga beban Mak Pit dapat jua berkurang. Karena terlantar di Kampung tanpa perawatan, Ibuku yang sejak dulu memang tempramental kalau melihat saudara-saudaranya menderita, langsung membawa Mak Pit ke Solok. Dirawat di Rumah Sakit Umum Kota Solok.

Saat kedatangan Bapak beberapa hari yang lalu, Beliau bilang kepadaku, anak Mak Pit yang nomor empat mau nikah bulan Desember ini. Malang memang tak dapat ditolak. Ajal datang tak terduga. Begitulah kuasa Tuhan atas manusia.

Hanya satu hikmah yang dapat hadir di pikiranku. Syukurlah kematian Mak Pit terjadi di saat anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Hingga mereka tak gamang menghadapi kehidupan yang sedemikian berat melanda.

Buat Mak Pit yang sangat baik, menyayangi diriku dari kecil hingga pertemuan tiga tahun lalu saat kepulanganku terakhir ke Kampung, kan selalu ku panjatkan do’a agar tenang di alam sana.

Ku kutipkan wall yang dibuat oleh adikku Oka, beberapa saat setelah Mak Pit meninggal,

Kmrn, aku baru saja khilangan sosok ortu yg mungkin g da gantinya bagiq. ortu yg trlalu mengabdi pada kluarganya,dan sampai akhir hayatpun dia masih brusaha ntuk bakit mnjadi yg trbaik ntuk kluarganya. tp apalah daya, ALLAH berkata lain. semoga dia d trima d sisiNYA!!!

Selamat jalan Mak Pit. Semoga engkau tenang di kehidupan yang baru. Saat penderitaan dunia tak lagi menderamu… Teriring do’a untukmu. Aku selalu mengenang kebaikanmu padaku…

NB: Baru sekarang aku bisa menuliskan postingan ini. Karena sungguh berat aku merangkai kata. Aku butuh suasana istemewa untuk menuliskan bait demi bait ini. Saat hati lembut., saat airmata begitu mudah mengaliri kedua pipiku… Ini hanyalah sekedar persembahan biasa. Untuk mengenang sosok “Ibu” yang teramat baik padaku… Selamat jalan Mak Pik…

Iklan