Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Setelah kepergian Mbak Ivana, aku tak pernah serius untuk mencintai seseorang. Seolah-olah bagiku, cinta tak lebih sekedar permainan. Lisanku mengucapkan cinta, tapi hatiku bergejolak luar biasa. Bimbang dengan ucapanku sendiri. Apakah aku benar-benar mencintai orang yang sedang kudekati?

Beberapa dari mereka mencaci-makiku. Merasa terhina dengan permainan yang ku skenariokan.  Mengucapkan sumpah-serapah. Hingga tak rela aku hidup bahagia dengan cinta sejatiku.

Akupun tak mengerti, apakah kecewa ketika cinta pertamaku kepada Greaty telah membuatku begitu gila seperti ini? Menjadikan sakit hatiku itu, sebagai  justifikasi bahwa aku juga bisa menyakiti wanita.

Aku seolah tak sadar melakoni semua ini. Niat awalku tak seperti itu. Aku memang ingin mencari gadis pujaan hati. Tapi setelah ku tahu orang yang kudekati lebih rendah kualifikasinya dari Greaty, akupun serta-merta memutuskan perkenalan. Entah sejak kapan, kecantikan dan kepintaran Greaty menjadi kriteriaku menilai wanita. Namun, ketika memilih untuk tak melanjutkan, aku merasa bahagia, karena lepas dari jeratan wanita yang sebanding dengan Greaty.

Kemudian kuputar memori mengingat kembali Greaty. Memori yang sangat kuat bertahta di hatiku. Rasanya memandang wajah Greaty sudah cukup menenangkan hatiku. Berkolaborasi dengan nyanyian Kak Siti Nurhaliza, aku mendapatkan kembali ruh masa lalu. Seolah-olah aku mendapatkan semangat baru untuk melanjutkan hidup.

Hah, hidupku begitu aneh. Semangatku tercipta ketika kesakitan demi kesakitan mendera. Ketika sumpah-serapah dan hinaan tertuju kepadaku, saat tertekan berat, saat itulah aku bisa memaksimalkan potensi otakku. Kemampuan intelektual dan ingsting kemanusiaanku bangkit. Menerjang semua, melawan semua, hingga mengantarkanku sebagai pemenang (paling tidak, menurut diriku sendiri).

Saat dilanda cobaan dan godaan untuk melepaskan masa lajang seperti ini, aku menghadapi dilema. Kisah kelam hidup telah tertera di blog ini. Terurai begitu vulgar, hingga bisa dibaca semua orang. Tak ada lagi rahasia diri. Semua terungkai dengan sistematis dengan rangkaian historis teratur. Ketika gadis yang kudekati membaca kisah masa lalu, dengan mundur teratur mereka menjauh dariku. Tak sanggup mereka menerima masa laluku.

Mereka selalu curiga dengan hatiku, bahwa cintaku tak murni. Dari goresan kata yang kubuat, sangat jelas bagaimana aku teramat mencintai Greaty. Meskipun ku katakan aku telah melupakannya, tapi nurani perempuan mereka mengatakan, semua palsu belaka. Dan benarlah itu semua. Ketika aku terlelap dalam lelahku, dalam tidur menghilangkan letihku, sosok Greaty-lah yang hadir dalam bunga tidurku.

“Uda tak pernah bisa melupakannya. Jikalau ia kembali, tentu uda akan meninggalkan aku, pergi bersamanya.” Itulah kata-kata pesimis yang disampaikan oleh seorang adek yang beberapa saat lalu cuba kudekati. “Cinta uda kepadanya teramat dalam. Tak mungkin hilang dari ingatan uda… Cubalah cintai ia dengan sederhana”.

Uraian-uraian itu, menyentakkan nuraniku.  Aku tak punya apologi lagi. Alam bawah sadarku (yang menurut Sigmund Freud, adalah penentu tindakan manusia) sudah terjerat dalam cinta masa lalu kepada Greaty. Sekuat apapun aku berusaha menghilangkannya, saat itu juga pemberontakan kuat menghadang pikiranku. Saat aku berupaya melupakannya, saat itu pula aku teringat kepadanya.

Dilema ini semakin membunuhku, karena Greaty sudah bertunangan. Dan beberapa kali ia mengatakan, hanya bisa menjadikan sebagai teman, tak lebih dari itu. Ketika aku berusaha mencari pengantinya, saat itu pula aku mengalami kegagalan.

Mungkin benar yang dikatakan Mbak Luluk, teman satu instruktur di IMM UGM, “Kalau menurut dugaanku ,, memang Allah tuh tahu njenengan blum siap untuk ketemu jodoh mas anggun saat ini….”.

Aku masih belum memiliki pendirian yang nyata. Tiada ketulusan, tiada keberanian. Hingga semua cintaku pudar. Tak lebih sekedar mimpi. Hanya sebatas bayang-bayang dan angan-angan.

Mungkin Tuhan baru akan mendatangkan jodohku, ketika aku lepas dari masa laluku. Saat aku benar-benar siap. Hatiku telah murni, tanpa lagi nama Greaty. Mungkin, Tuhan tak mau aku menyakiti calon istriku dengan kenangan dulu.

Apakah ini bentuk hukuman untukku atas permainan api asmara? Hingga aku berjalan gontai, tak lebih pemuda nan berjalan bagaikan bangkai tanpa semangat sedikitpun.

Perpisahanku dengan Greaty, seolah telah membawa segalanya. Membawa hatiku, hingga aku tak bisa menjadi sosok yang baru. Ketika aku tak bisa mengembalikan hatiku, saat aku tak bisa kembali kepada Greaty-ku, apabila tiada gadis yang mau memahami masa laluku, ku mohon Tuhan, MUNGKIN MATI LEBIH BAIK BAGIKU…

Kalaupun aku bisa menikah nanti, toh pada akhirnya aku hanya menyakiti istriku. Padahal ia telah menyerahkan hati dan dirinya seutuhnya. Sementara aku masih terbelit dalam igauan kenangan lalu. Semakin banyak dosa yang akan kuperbuat.

Hari-hari ini teramat berat bagiku. Saat deadline skripsi semakin dekat, saat itu pula aku membutuhkan energi untuk membunuh harapan untuk menikah.

Ah… Cukuplah kurangkai kalimat demi kalimat ini. Aku tak mau menjadi hamba yang menyesal atas hidup yang telah Engkau berikan Tuhan… Karena semakin berat untukku, ketika harus mempertanggung jawabkan semua di hadapanMu…

Setiap hela nafas yang Engkau berikan, akan kujalani semampuku. Kan kuisi untuk memujaMu. Karena sepahit apapun hidup, aku tak mau menjadi hamba yang durhaka kepadaMu. TUHAN, MOHON MAAFKAN AKU…