Panitia angket akan dibentuk. Dukungan fraksi di DPR telah penuh. Mahasiswa telah mulai bergerak, dan siap mengawal sampai terkuaknya misteri kemana dana sekian triliyun rupiah mengalir. Kasus Century menjadi panas, karena melibatkan petinggi-petinggi negara yang saat ini duduk di kursi kekuasaan. Terindikasi menjerat Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Mengancam kredibilitas Partai Demokrat karena ada “isu” yang mengatakan orang-orang Demokrat ikut menikmati bagi-bagi uang Bailout Century.

Amien Rais (”Bapak Reformasi 98″) angkat suara agar Wapres dan Menkeu sekarang mengajukan non aktif sementara. Sementara Abdillah Thoha politisi senior PAN mengatakan tidak perlu langkah itu. Lembaga swadaya masyarakat Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) santer menyebut pihak-pihak yang menerima dana panas Century. Sementara SBY menyebut tuduhan ini sebagai fitnah yang tidak berdasarkan bukti.

Terlepas dari perjalanan Kasus Century yang agaknya akan memakan waktu lama dan melelahkan, saya melihat beberapa pihak sudah bosan dengan kasus yang tak berkesudahan. Kayaknya pengambil kebijakan begitu pandai membaca psikologis orang-orang Indonesia yang begitu cepat beralih kepada isu dan berita baru.

Kalau kita perhatikan, memori sebagian masyarakat Indonesia hanya bertahan selama 1 bulanan untuk fokus pada satu persoalan. Sebagai contoh, kasus Gempa yang baru saja menimpa Sumatera Barat begitu mendapat perhatian dan simpati masyarakat pada 2 minggu pertama. Aliran bantuan turun bak air bah. Minggu ketiga dan keempat, musibah sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal korban masih membutuhkan uluran bantuan.

Tentu amat disayangkan, kalau semakin berkurangnya antusias masyarakat terhadap pembongkaran Kasus Century berimbas kepada situasi psikologi para pejabat dan anggota lembaga-lembaga negara yang saat ini getol untuk membuka tabir gelap Century. Kita melihat kasus Bibit-Candra begitu massif tersiar dikarenakan masyarakat begitu memperhatikan dan bahkan memberikan dukungan kepada 2 pimpinan KPK yang dinilai didzalimi ini. Saat masyarakat meradang, saat itulah pemerintah dan lembaga penegak hukum kebakaran jenggot, sehingga berkali-kali memberikan klarifikasi untuk menenangkan keadaan.

Sekarang masyarakat sudah sibuk dengan kerja-kerja rutin. Melanjutkan hidup yang semakin lama semakin keras. Para pekerja di perusahaan swasta terus diintai oleh ancaman PHK. Sementara lulusan perguruan tinggi dipusingkan perjuangan mencari kerja. Anak-anak sekolah bersiap-siap untuk ujian kelulusan. Sedangkan mahasiswa berkutat dengan text book kuliah dan menambah keterampilan praktis agar setelah lulus tidak menjadi pengangguran. Pengusaha merancang strategi untuk mempertahankan keuntungan bisnis di tengah gejolak ekonomi dunia yang tak menentu. Para PNS sibuk dengan kerja-kerja kantoran sambil ngerumpi dan baca koran, karena memang nasib mereka sudah “terjamin” hingga mati. Para dosen dan guru tetap mengajar, mencecoki mahasiswa dan pelajar dengan gambaran masa depan yang ngak jelas. Sementara pedagang di pasar tetap kewalahan karena pembeli sepi tersedot di pusat-pusat perbelanjaan megah di pusat kota. Pengemis dan pengamen tetap beraktivitas mengumpulkan uang recehan untuk makan menyambung hidup.

Jika sudah begitu, kekhawatiran bahwa pengusutan Kasus Century akan bernasib sama seperti kasus BLBI dan kasus-kasus korupsi yang lain, hilang di tengah jalan tanpa kejelasan dan penyelesaian, sungguh sangat beralasan. Ketika masyarakat menginginkan ketentraman tanpa gejolak dan kegiatan memenuhi kebutuhan hidup tidak terhalangi, bisa jadi masyarakat bisa memaklumi bahwa korupsi memang sudah menjadi budaya yang masih bisa ditoleransi di negeri ini.

Apabila gaya berpikir ini sudah bertahta di pikiran rakyat, maka menjadi pekerjaan berat bagi para pembela keadilan dan pejuang kebenaran dalam mengembalikan mindset masyarakat untuk alergi kepada korupsi. Oleh karena itu, mumpung Kasus Century belum basi kepada stakeholders yang konsen dan peduli menyelamatkan bangsa ini dari penyakit kronis korupsi tetaplah kobarkan semangat rakyat untuk terus lantang meneriakkan perlawan terhadap kedzoliman. Tetap nyalakan kemarahan rakyat kepada segala bentuk ketidakadilan… Karena revolusi tidak hanya sekali. Revolusi sesungguhnya butuh waktu panjang dan dilanjutkan dari generasi ke generasi.

TETAP GELORAKAN SEMANGAT MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN BANGSA INI DARI JAJAHAN KORUPSI..

Iklan