Nasib Lulusan PTN Favorit


Kedatangan Bapak beberapa hari yang lalu setelah menghadiri Rapat KPU di Bali telah menyentakkanku dengan situasi yang saat ini terjadi di kampung (Sumatera Barat). Ada kondisi miris, dimana lulusan UGM, UI, dan beberapa kampus favorit di Jawa yang mengadu peruntungan lewat test CPNS “kalah” bersaing dengan lulusan universitas daerah. Parahnya lagi alumni universitas-universitas nasional harus mengakui kemenangan lulusan perguruan tinggi tak terkenal yang juga tak jelas akreditasinya.

Ya, sudah banyak kudapatkan kabar dari teman-teman lulusan UGM yang tak kunjung mendapat kerja ketika balik lagi ke kampung. Berkali-kali tak beruntung menembus kursi pegawai negeri yang konon menjadi incaran banyak orang. Meski gaji terbatas, namun terjamin untuk masa depan. Hatta sampai matipun ahli waris tetap menerima tunjangan.

Kalau sudah begini, apa sih hebatnya UGM dibandingkan dengan universitas-universitas swasta kecil di daerah. Kalau toh akhirnya tak mampu bersaing, bahkan tersingkir dari kompetisi, buat apa sekolah jauh-jauh dengan biaya yang tak sedikit? Buat apa kuliah di universitas favorit jika tidak bisa apa-apa.

Sindiran Bapak membuatku berpikir keras. Apakah benar menjadi mahasiswa UGM tak lagi bisa dibanggakan? Terus terang aku ngak ngerti dengan sistem penilaian kelulusan PNS. Akupun juga tak tahu bagaimana persisnya soal-soal yang diujikan. Namun melihat latar belakang bahwa orang-orang yang kuliah di UGM adalah bintang sekolah dan telah dididik oleh dosen-dosen berkualitas, bahkan lulusan dengan predikat cumlaude, tapi kenapa tak bisa menjawab soal-soal ujian yang hanya seputaran bahasan tata negara, bahasa inggris, bahasa indonesia dan logika?

Terus terang sampai hari ini, aku tak habis pikir dengan situasi anomali ini. Namun cukup menjadi “tamparan” bagi teman-teman lulusan universitas nasional favorit untuk intropeksi diri, jangan-jangan selama kuliah terbuai dengan nama besar universitas sehingga tak mengikuti perkembangan mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di universitas-universitas biasa-biasa saja.

Aku jadi teringat dengan ceramah yang disampaikan oleh Mas Hanafi Rais, M.A, dosen Hubungan Internasional UGM lulusan NUS Singapore yang juga putra sulung Prof. Amien Rais, dalam kesempatan studium general pengkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM. Kata beliau, generasi yang dilahirkan tahun 1975 sampai 1990-an adalah generasi pasca modern yang ditandai dengan ketidakmenentuan masa depan. Mereka menghadapi zaman dimana latar belakang pendidikan tidak menjadi patokan akan cerahnya masa depan. Lulus dengan IPK 4-pun tidak menjadi garansi akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan menjamin kesejahteraan di masa depan.

Generasi X ini adalah generasi yang menghadapi dunia yang kacau. Dimana sistem ekonomi bergulir tanpa diduga. Resesi ekonomi terus saja mengintai. Ancaman PHK selalu menghantui para pekerja muda. Jadi aktivis mahasiswa-pun tidak lagi menjadi bergengsi jika tak punya skill yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Saat ini adalah zaman menunjukkan keahlian. “Anda bisa apa, bukan IPK anda berapa”.

Manusia yang memiliki naluriah cari aman dan kenyamanan, tentu mendambakan pekerjaan tetap tanpa dihantui oleh pemecatan atau pemberhentian. Maka PNS adalah solusi yang paling dikejar dan diincar oleh lulusan perguruan tinggi. Ketika pekerjaan paling mengiurkan ini susah ditembus oleh lulusan perguruan tinggi nasional, agaknya harus ada kesadaran, SUDAH TIDAK SAATNYA MEMBANGGAKAN ALMAMATER tanpa pernah mengasah kemampuan dan keahlian…

Iklan

4 thoughts on “Nasib Lulusan PTN Favorit

  1. Asl.Wr.Wb. Wah, mas Gunawan ini lulusannya bareng saya ya? saya baru lulus UGM kemarin tanggal 19 Nov 09. Kalau menurut saya, kenapa tidak jadi pengusaha saja? Saya bertekad kuat untuk menjadi pengusaha, biar bisa nolong orang lain. Masalahnya mental para lulusan adalah “mencari kerja”. Sehingga masalah yang satu itu gak juga selesai2. Saya sudah mulai merintis usaha sejak di tengah masa kuliah. Hasilnya, alhamdulillah sekarang saya sudah menikah.

    Saya saat ini sedang bisnis Herbal, minuman ekstrak rosella, dan Rumah Beckam. Jika mas Gunawan ini tertarik, trus ada tempat untuk kerjasama. InsyaAllah selalu ada peluang dan saya sangat senang mendapat teman untuk belajar menjadi Pengusaha Sukses.

    Hasnil Afrizal Muttaqien, Ssi.
    Fisika UGM FMIPA 2004

  2. Wah, cukup mengerikan juga ya. Iya juga tuh, ane stuju dengan mas hasnil. Ane juga sedang mencoba memulai usaha, masih dalam tahap pengumpulan modal awal. Habis belum ada skli yang bisa djual sih untuk usaha dengan modal uang yang nol. Tapi ane yakin lambat-laun pasti akan terbuka jalannya….

  3. setuju mas mas.ini sya jg mash kuliah d UT .smstr 9.buat apa qt mengincar sesuatu yg sulit (pns).pdhal kbuthn mngkt berkata:

    setuju mas.ini saya msh kuliah.tapi kok malh jamn skrang makin kacau saja rekrutmen pns.pdhl kbthan ekomni bertmbah bank

  4. Saya mahasiswa Teknik Sipil UGM tahun 2013, kalau menurut saya, pikirkanlah masa depan ϑäπ cita-cita Ɣªňɡ kita impikan sebelum melangkah. Jika ṁ̭̥̈̅̄α̣̣̥u̶̲̥̅̊ jadi pengusaha, kita ßišª kuliah misal (UGM) tamat langsung cari kerja atau direkrut perusahaan tertentu ϑäπ mendapatkan pengalaman bekerja. Setelah bekerja, kita sudah bisa mulai membangun usaha sendiri.
    Cintailah pekerjaanmu! Menurut kuliahmu!
    Tetapi jika ingin menjadi PNS, kita tidak perlu kuliah di UGM, itu hanya sia-sia belaka. Coba saja tuh Sekolah ikatan dinas Ɣªňɡ langsung menempatkan jadi PNS misal (STAN, STIS, Akpol, Akamigas, dll) sehingga kita tidak perlu capek-capek kuliah di UGM,UI,ITB dsb.
    Keberhasilan itu tergantung diri sendiri Ɣªňɡ menjalani serius atau tidak!
    Salam!

    Maba UGM 2013!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s