Satu bulan sudah aku bergulat di Kompasiana. Berbagi cerita, berbagi pemikiran tentang hal-hal yang bisa kutuliskan untuk dibaca bersama. Baru 38 tulisan yang baru kupublish. Ada yang mendapat sambutan hangat, ada juga dicerca habis-habisan.

Dinamika komentar di bawah tulisan, memang menjadi sensasi sendiri bagi penulis. Melecutkan semangat untuk terus berkarya, karena komentar merupakan bentuk apresiasi dari pembaca.


Namun ada satu hal yang membuatku jengah, yakni kritik-kritik pedas yang kadang disampaikan dengan bahasa kasar. Beberapa kali kucek ke alamat pemilik komentar-komentar pedas di berbagai tulisanku. Apa yang kutemukan? Ternyata tulisan mereka tak semantap dan segarang komentar yang mereka buat. Malahan ada yang belum mempublish tulisan sama sekali.

Saya berpikiran bahwa Kompas menyediakan forum Kompasiana bagi para blogger untuk menuangkan ide yang tak tertampung di koran edisi cetak. Setiap orang punya cerita, pengalaman, pemikiran, dan curhatan yang bisa kepada orang lain. Maka kompasiana memberikan ruang itu.

Tentu sangat bijak kita menggunakan fasilitas lumayan keren dari Kompas ini untuk saling berbagi dan memberi. Saling memotivasi, bukan saling mencaci. Tipelogi komentator tentu sangat diperlukan dalam situs interaktif seperti kompasiana. Tapi jangan sampai keasyikan mengomentari lupa menghasilkan karya.

Beberapa orang menjadikan kompasiana sebagai wahana belajar. Termasuk diriku yang mencoba bereksistensi dalam menulis. Sebagai penulis pemula tentu banyak kesalahan di sana-sini. Terkadang yang dibutuhkan bukanlah caci-maki dan hujatan. Tapi malah, masukan dan nasehat.

Ya, mudah-mudahan tipelogi komentator bisa berkurang di Kompasiana, sehingga membawa warna positif dalam tradisi penulisan orang-orang Indonesia yang terkenal lebih suka pada suara dan tradisi lisan. Jangan pernah meremehkan sekecil apapun karya orang, karena menuju puncak dimulai dari tangga terendah dahulu.

Cukuplah kata-kata dari penulis kawakan JK Rowling, penulis best seller Harry Potter menjadi spirit menghadapi komentar-komentar dekonstruktif, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan.” So, apapun yang terjadi, tetap terus berkarya, karena seorang Karl Marx bisa mengubah dunia lewat kata-kata yang ia goreskan lewat Das Capital yang ditulis di kamar berdebu lagi berantakan. So, jangan menyerah untuk berkarya…

Iklan