Satu tahun ini, aku melihat perubahan signifikan dalam pengkaderan yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Gadjah Mada, terutama soal makan. Kalau dulu biasanya masing-masing peserta diberikan nasi bungkus per-orang, sekarang digabung jadi satu dalam panci sedang untuk dimakan 5-8 orang. Tidak hanya peserta, tapi panitia dan instruktur-pun disetting makan bareng lewat satu porsi besar.

Apa yang terjadi pasca pelaksanaan training? Panitia, peserta dan instruktur menjadi akrab. Tak ada jarak, semua ngobrol lepas tanpa sok jaga image. Termasuk antara cowok dan cewek. Semua ngobrol dengan santai, tentunya dengan etika yang tetap dijaga. Tak perlu ada hijab (tabir pembatas laki-laki dengan wanita) ataupun saling memalingkan wajah ala anak-anak Salafi (jama’ah Wahabiah di Indonesia) dan KAMMI (aktivis kampus undergroundnya PKS). Semua berjalan wajar, menundukkan pandangan cukuplah di hati masing-masing saja.

Malam ini, ada pula makan bareng di asramaku bersama teman-teman putri satu rantauan Minang di Jogja. Makan enak, karena yang dihidangkan adalah daging kurban yang telah dimasak ala masakan Padang. Tentu nikmat untuk dicicipi.

Namun entah kenapa moodku hilang. Tak ada selera untuk makan bareng bersama teman-teman yang sudah teramat dekat, bahkan sudah kayak saudara sendiri. Entah kesambet setan apa aku ini? Padahal makan bareng sungguh menyenangkan.

Ku cuba runut, kenapa aku jadi emosional kayak gini? Tak menghargai teman-teman asrama putri yang sudah capek-capek masak berjam-jam. Ah, lagi-lagi aku mesti mengajukan justifikasi.

Ngak mood-ku sudah dimulai sejak tadi pagi. Saat anak-anak asrama telat ikut menyembelih hewan kurban. Hanya karena sebuah undangan yang semestinya bisa diundur. Tapi entah kenapa mereka lebih memilih “bersenang-senang” daripada ikut membantu masyarakat yang sudah bergulat dengan penyembelihan.

Aku diserang oleh senior. Kenapa kali ini kita hanya dapat sedikit daging kurban? Tak seperti tahun sebelumnya. Emosiku semakin naik ketika daging kurban yang hanya satu setahun sekali dinikmati hanya dibuat “gulai sempedas” (gulai paling sederhana yang dibuat ibu-ibu di Minang ketika lagi malas masak). Tambah lagi aku harus berhadapan dengan cewek-cewek yang ngak konek ngobrol denganku. Ah, akhirnya kubulatkan tekad untuk tak ikut makan bareng bersama mereka.

Tiada aku merasa bersalah dengan pilihan ini. Apalagi teringat olehku perkataan Dr. Joko Siswanto, dosen Metafisika-ku di kampus, “bersatu dalam makanan adalah bentuk solidaritas primitif”.

Ya, aku menemukan justifikasi. Bersatu untuk soal makan adalah bentuk solidaritas primitif yang akan cepat sirna ketika menghadapi hal-hal yang berat dan lebih membutuhkan pemikiran. Dan untuk konteks teman-teman ini sudah sering kubuktikan. Solidaritas primitif atas bentuk makanan hanya akan bertahan, selama perut masih kenyang. Setelah itu akan hilang seiring tawa tak lagi bersuara.

Akhirnya ku sadar, kegiatan yang mirip tak selalu berefek sama. Aku begitu menikmati makan bareng bersama teman-teman Muhammadiyah yang notabene hanya bertemu sesekali saja. Namun, ketika aku menghadapi kejadian yang sama dengan teman-teman asrama sendiri, yang hampir tiap jam bertemu, aku kehilangan mood. Ah, entahlah.. Mungkin diriku dah gila kali ya…:) he2….

Btw, salam hangat buat seluruh Kompasianers dan pengunjung Kompasiana…