Ya Allah..mengapa di mlam yg pnuh brkah ini mereka brkata kasar yg tdk pantas, mereka yg kutahu selalu selalu terjaga lisannya..

Dek, terima kasih telah menyadarkan lewat goresan status wall-mu. Sungguh tadi malam, emosiku benar-benar meledak. Kalau kuceritakan kronologisnya, mungkin engkau akan mengerti. Ungkapan ini hanyalah, amarah yang berkecamuk di kepalaku. Melihat situasi yang amat mengiris barometer kebaikan yang dipunyai.

Apakah tidak pantas marah buat orang yang mau enaknya saja. Kita tinggal bersama di asrama, tapi giliran kerja-kerja untuk asrama seperti piket, gotong royong, dan kegiatan sosial lainnya dia raib entah kemana. Ketika diperingatkan baik-baik, malah dia menantang, “Apa sih mau lu?”. Ketika diomongin lagi, dia malah menawar, “Lu jual Gue beli”. Kan ngajak berantem namanya.

Dek, dengan baik ku jaga lisanku. Telah kuat aku meredam amarah. Hanya lewat tulisan ini aku bisa menumpahkan marahku, tanpa sekalipun lisanku mengucapkan kata-kata kasar itu.

Soal pemimpin negara ini yang seolah lepas tanggung jawab atas kebijakan yang telah dilakukannya, akan ku buat sebuah analogi. Ketika uang negara ditilap oleh para bankir, pemimpin kita merasa aman-aman saja. Merasa tak ikut andil atas kerugian negara. Banyak apologi dan sandiwara yang dimainkan. Silahkan adek cermati kasus Century.

Ah, ini mungkin hanya sekedar pembelaan diriku. Karena bagimu tetap saja keadaan seperti apapun lisan harus tetap dijaga. Maaf jika aku tak bisa berlaku manis seperti itu. Ada saatnya untuk marah sampai mencaci maki. Ada saatnya pula bersikap kalem lagi sunyi.

Aku mengatakan semua yang terasa sesuai keadaan hatiku. Tiada yang dibuat-buat. Saat mengatakan cinta, begitulah sesungguhnya perasaanku. Saat mengatakan benci, begitulah situasi hatiku. Karena kata-kata akan punya makna kalau memang lahir dari hati yang jujur meski terkadang amat menyakitkan.

Begitu jua ketika kunyatakan perasaanku kepadamu. Itulah kata yang sebenarnya. Alunan yang lahir dari jiwa. Karena aku tak mau bohong dek. Aku akan mengungkapkan apa yang kurasakan, entah apapun resikonya.

Lewat goresan ini, kukirimkan do’a semoga Ayah cepat sembuh. Biar dirimu tak lagi khawatir dengan sosok yang teramat mencintaimu itu. Dek, dirimu beruntung menjadi anak baik dan disayangi oleh kedua orang tuamu. Sebuah kesempatan yang tak dimiliki oleh anak-anak yang lain.

Bacalah link yang tertera ini. Ada di dunia ini, anak-anak yang tertekan oleh orang tuanya sendiri. Hingga menjadi “manusia aneh” bahkan terjerat dalam kasus kriminal.

Takbir bergema di pagi nan dingin ini. Takbir yang menggetarkan jiwa-jiwa nan suci. Namun bagiku, semua ini tak lebih dari sekedar seremoni. Hari Raya sekedar rutinitas tahunan. Tak bermakna karena tiada perubahan sosial yang terjadi. Tiada keadaan yang berubah, kecuali makan enak selama 3 hari, syukur-syukur satu minggu jika mendapatkan daging kurban yang lumayan.

Ah, kenapa aku jadi gila seperti ini? Apakah amarah dan cinta telah membuatku tidak bisa berpikir logis lagi. Terlalu mengharap, tiada pernah terwujud membuatku larut dalam egoistik neurotik. Hingga teramat suka dengan lagu-lagu sendu dan novel-novel berkisah sedih.

Dek, sungguh aku ingin belajar tentang cinta darimu. Namun, engkau sudah terburu pergi.

Mungkin engkau akan lebih selamat jika menghindar, daripada mendekat dengan orang paranoid seperti diriku. Ya, cinta yang kupuja hanyalah igauan. Hanyalah teriakan sunyi di tengah padang pasir. Sudah nasibku menjadi pemuda sunyi. Hanya bisa menyuarakan cinta. Tiada merasakan cinta…

Iklan