Idul Adha, momen yang tepat untuk unjuk gigi memotong kambing dan sapi. Untuk tahun ini, seperti biasa kebolehan menguliti dan mencincang tulang-tulang kembali diperlihatkan. Ya, sebelum sholat jum’at kerjaan sudah selesai. Lebih cepat lebih baik. Karena masih ada sholat jum’at yang mesti ditunaikan. Meskipun ada ruksoh untuk hal ini, namun untuk orang yang mukim mengerjakan kayaknya lebih afdhol.

Mulai sore tadi teman-teman dari asrama putri sudah ramai di asrama. Masak-masak buat makan malam. Lumayan, acara makan bersama tahunan dengan menu teramat enak, daging kurban. Namun, tiada aku ikut-ikutan berkumpul dengan mereka. Bukan segan ataupun malu, tapi memang aku lagi ngak mood ngomong.

Entah kenapa, sehabis magrib tadi aku ingin sekali baca Al Qur’an. Melantunkan kembali ayat-ayat suci Tuhan dengan suara termerdu yang kupunya. Masih lumayan, meskipun aku kehilangan irama di tengah bacaan.

Saat sholat Isya tadi, aku serasa mendapat insight. Kayaknya beberapa waktu ini aku melupakan Tuhan. Melupakan Allah, sang Pemilik Alam Semesta ini. Aku terlalu cepat kalah. Terlalu cepat putus asa dengan keadaaan.

Aku teramat bersandar dengan kemampuan yang kumiliki. Mengandalkan kemampuan logika dan pesona diri. Aku pikir semua akan tercapai dengan usaha dan kepercayaan diri.

Namun, aku malah terpental. Banyak harapan dan impian yang terjejal. Harapan tinggal harapan. Mimpi tinggal mimpi. Jika sudah menemui titik ini, aku sangat mudah mencaci maki. Mencaci diri sendiri. Mencaci orang-orang yang telah menjerumuskanku dalam kebimbangan amat sangat.

Apalagi saat letih memperjuangkan cinta. Telah sepenuh hati memberikan kasih sayang. Menyerahkan hati untuk dia yang kucinta. Namun, yang diterima hanya penolakan demi penolakan. Ketika itulah, aku merasa lebih baik mati daripada hidup. Aku ingin mengakhiri semua.

Aku putus asa. Tapi, tak sanggup aku protes kepada Tuhan. Karena kusadari memang inilah nasib dan garis tanganku. Kalau dulu, aku sempat-sempatnya mengadukan keberatan kepada Tuhan. Atas wajah, fisik, dan kecerdasan yang membuatku dijauhi oleh orang kucintai. Apabila kutemui orang-orang yang tak sempurna sepertiku, saat itulah aku amat bersyukur kepadaNya. Aku masih diberikan tubuh yang sehat dan kesempatan untuk terus belajar.

Belakangan ini aku kehilangan Tuhan-ku. Aku terombang dalam gelombang hidup. Mungkin aku terlalu sombong. Terlalu pongah dengan apa yang telah dikaruniakan.

Ya, malam ini aku menemukan Tuhan-ku kembali. Cahaya yang terang benderang yang singkirkan gelap dan mendung di pikiran-hatiku. Dunia ini hanya permainan. Hanya akhirat saja yang kekal dan abadi. Surgalah yang mesti dicari, bukan dunia yang tak ada arti. Semua akan mati, semua akan berakhir.

Tuhan, terima kasih atas hidayah yang telah Engkau hadirkan di malam ini. Bersama bimbingan dan petunjukMu, sungguh hidup akan mudah dan indah untuk dijalani…

Jangan menyerah… Jangan menyerah… Jangan Menyerah… syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah… tetap jalani hidup ini… melakukan yang terbaik… Tuhan pasti kan menunjukkan… kebesaran dan kuasanya… bagi… hambanya yang sabar… dan tak kenal putus asa (D’Masiv – Jangan Menyerah MODE ON)…