Mata belum mau dipejamkan. Padahal tadi tak tidur siang. Dari sore sampai Isya dah mutar-mutar sama Bapak dari Monjali, UGM, Alun-Alun Selatan dan Malioboro. Ya, Bapak datang singgah di Jogja sebentar sepulang rapat kerja KPU di Bali. Sekarang Bapak sudah terlelap, tidur kecapekan meskipun nyamuk-nyamuk nakal mengganas malam ini.

Sudah 3 tahun aku tak pulang kampung. Sudah 3 tahun aku tak bertemu Bapak dan Ibu. Meski Bapak harus berangkat lagi ke Padang besok pagi, sungguh pertemuan satu hari ini telah melepas rinduku.

Sama seperti kedatangan beliau beberapa tahun yang lalu, lagi-lagi Bapak protes dengan penampilanku. Soal pakaian dan gaya rambutku yang acak-acakkan. Kalau dulu beliau protes dengan celana jingkrang dan jenggotku yang panjang. Tapi berhubung sekarang celanaku sudah biasa dan jenggotku sudah dirapikan, beliau tak lagi mengolok-olokku dengan penampilan Jama’ah Tabligh.

****************

Barusan nyampai di asrama. Setelah mengantar Bapak kembali ke bandara. Mata masih ngantuk, karena semalam hanya tidur 3 jam-an. Kayaknya habis bikin postingan ini aku mau tidur lagi. Mudah2an bisa bangun sebelum dzuhur, biar tak telat sholat dan menghadiri kuliah Pak Arqom siang ini.

Satu pesan Bapak yang teramat ditekannya di bandara, “segera selesaikan skripsimu, gun”. Tadi malam Bapak cerita-cerita tentang teman-teman kecilku yang sudah pada kerja, dah lulus kuliah. Aku memang tak bisa mengelak lagi. Kuliah 7 tahun memang teramat lama.

Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Aku berangkat ke Jogja dengan tekad membara. Pasang target 4 tahun sudah bisa wisuda. Dua semester kulewati dengan jitu. Sampai aku diberondong dengan virus-virus “filsafat haram” yang telah mematikan semangatku.

Tak usahlah aku mengobral orang-orang yang telah menjerumuskanku. Orang-orang yang telah membuatku tak bisa memenuhi harapan kedua orang tua. Tapi hari ini, aku memang teramat benci kepada mereka. Teramat benci dengan cemoohan dan kepiawaian mereka mempengaruhi otakku hingga jadi mandeg dan tak bisa berpikir logis.

Namun, hari ini tiada guna aku menghujat dan mencaci. Sekarang saatnya aku untuk menuntaskan semua, meskipun sudah terlambat. Masa depan sudah di depan mata. Tak ada manfaatnya terjerat pada masa lalu. Kakiku terus melangkah, menuju takdir yang telah Tuhan persiapkan untukku.

Adinda, engkau adalah masa depanku. Engkaulah yang kupuja saat ini. Aku tak akan lagi tenggelam pada masa laluku. Karena aku tahu, dirimu amat berharga bagiku.

Tunggu aku Februari 2010… Aku akan akan menyongsongmu dengan senyum lepas atas kemenangan pertamaku… WISUDA…