Setelah BPK menegaskan bahwa ada indikasi kriminal dalam kasus Bank Century, buru-buru Fraksi Demokrat di DPR mengumumkan bahwa mereka ikut ambil bagian dalam hak angket Century Gate. Dengan sangat yakin Anas Ubaningrum dalam wawancara di Kabar Malam TV One tadi malam menyatakan “kami bersih dari kasus Century”.

Memang gelinding bola panas Century yang diperkirakan memberikan kontribusi kepada Team Kampanye Demokrat dan SBY-Boediono telah telanjur menyebar. Dugaan ini begitu kuat karena beberapa pemegang saham Century adalah orang-orang dekat SBY.


Namun melihat pernyataan klarifikasi SBY bahwa semua ini adalah fitnah. Isu yang mengatakan telah mengambil keuntungan bailout Century tidak benar sama sekali. Pernyataan menyakinkan juga disampaikan oleh Anas Ubaningrum salah seorang petinggi Partai Demokrat. Menurut hemat penulis kita harus berputar arah dalam memahami kasus ini. Tidak lagi menfokuskan pembuktian aliran dana kepada team kampanye SBY-Demokrat, tapi lebih kepada sisi-sisi lain permasalahan ini.

Memang agak sulit untuk membuktikan aliran dana Century murni ke kantong SBY dan Demokrat. Tapi bukan ini sebenarnya yang perlu ditelisik. Karena terlalu ceroboh SBY jika memakai dana talangan Century sebagai kas tunai kampanye politiknya.

Memakai perspektif Dr. Rizal Ramli, kasus Century jelas sangat kental dengan nuansa politis. Yang dikejar bukanlah uang. Karena kalau uang, maka yang dicuri tak cukup 5 atau 6 triliyunan. Kenapa tidak puluhan atau ratusan triliyun sekalian biar jatah distribusi bagi kader-kader Demokrat akan lebih besar? Ada tujuan yang lebih besar dan vital, yakni kekuasaan.

Penulis menduga, uang talangan Century mengalir kepada pengusaha-pengusaha nakal yang bermain di bank-bank menengah seperti Century. Kenapa SBY membiarkan mereka berkeliaran? Penulis menduga ini terkait masalah legitimasi ekonomi.

Sebagaimana bisa kita cermati, Rezim SBY-Boediono sangat kental dengan warna kapitalisme. Siapa yang menggerakkan kapitalisme? Tak lain dan tak bukan, pengusaha-pengusaha dan bisnisman-bisnisman berkantong tebal. Kita bisa melihat bagaimana SBY sangat peduli dengan mereka. Baru saja terancam, segera mereka diperhatikan. Tidak salah, jika kita memahami bahwa pilar-pilar kapitalisme adalah kaum borjuasi yang saat ini direpresentasikan oleh para pengusaha dan bisnisman.

Maka melalui Boediono dan Sri Mulyani, agenda-agenda kapitalisme global tetap dijalankan. Silahkan simak pernyataan SBY malam ini tentang Century. Lagi-lagi dongengan krisis keuangan global menjadi kunci dan pokok alibi. Telah sekian banyak pakar ekonomi, bahkan BPK-pun mempertanyakan efek sistemik dari kolapsnya Century. Tapi tetap saja, itu diacuhkan.

Hari ini kita melihat pidato SBY yang sangat normatif. Sampai-sampai salah satu anggota TPF, Komaruddin Hidayat makan hati dengan tanggapan SBY atas rekomendasi yang dibuat dengan susah payah. Kalau kita ibaratkan dalam logika agama, maka SBY sebagai Imam melafazdkan ayat secara bergumam, hingga makmum binggung harus melakukan gerakan apa.

Menurut hemat penulis, ini bukan soal karakter SBY yang lamban. Tapi ada satu beban yang ditanggung SBY, yakni “menyelamatkan kolega-kolega lingkaran kekuasaan”. Kalau saja SBY sedikit saja bersikap tegas dan membuat mereka tersinggung, maka tsunami politik akan menguncang Indonesia. Merela meradang dan akan buka suara membeberkan misteri-misteri kebobrokan pemerintah yang masih tersembunyi dari publik sampai saat ini.

Tentu kita akan bertanya, sampai kapankah SBY bersikap “santun” dan “ramah” seperti ini untuk membungkam suara-suara kaum borjuasi ini? Jika Bang Fajroel Rahman mengatakan umur pemerintahan SBY tidak akan sampai satu tahun, maka saya melihat, umur kekuasaan SBY sangat tergantung seberapa loyal orang-orang penting di sekelilingnya bisa memainkan situasi dan menahan diri untuk tidak ikut bicara dalam menambah kekisruhan.

Namun, satu hal yang pasti, negeri ini telah dikuasai oleh oligarkhi kekuasaan nan berkelindan atas dasar balas budi. Karena jabatan dan uang telah termakan, maka mulutpun terpaksa diam meskipun telah nyata kemungkaran berkeliaran di depan mata. Ya, hanya atas kebaikan Tuhan saja, negeri ini bisa pulih dari sakit kronisnya…