Hujan masih sedia turun. Hantarkan dingin menembus pori-pori tubuhku. Selesai sudah sholat Isya ditunaikan. Beberapa ayat Al Qur’an coba ku lantunkan. Obati resah yang hinggapi diriku sejak tadi.

Dinda, ingin kuhaturkan maaf. Bukan niatku untuk memaksamu memilih. Bukan pula niatku jadikan engkau binggung atas semua ini. Kusadari, emosi begitu menguasaiku. Ketakutan akan kehilangan dirimu, begitu menghantuiku.

Kuhadang hujan, biar segera bisa pulang. Membuka komputer, harap-harap ada surat darimu. Tapi listrik mati, hingga akupun harus bersabar. Baru menjelang magrib tadi, komputer baru dapat kunyalakan.

Setelah ku ganti baju sepulang dari Masjid Kampus, ku ambil selimut menutupi seluruh tubuhku nan mengigil. Aku tak tahu kenapa fisikku begitu rapuh akhir-akhir ini. Padahal tak ada kerja ataupun olahraga berat yang kulakukan.

Tadi saat menunggu hujan reda di kampus, pasca kuliah pak Arqam yang dibatalkan karena beliau ada acara wisuda di fakultas, sempat jua aku tertidur di bangku depan ruangan kuliah. Letih tak bisa ku tahan. Tak perlu malu, karena teman-teman kampus sudah tahu dengan tingkahku.

Malam ini kembali harus ku terjang hujan. Karena teman-teman instruktur telah menunggu untuk rapat mendesak, menghadapi latihan pengkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM. Tak enak rasanya jika tak datang. Karena aku sudah berikan janji kepada teman-teman.

Dinda, barusan ku tulis surat untukmu. Semoga ada balasan darimu, setelah aku pulang nanti. Percayalah, apa yang kurangkai dalam bait-bait kalimat itu lahir dari lubuk hatiku terdalam. Ketika hati ini kalut, sekaligus takut akan kekuasaan Tuhan. Karena kebohongan hanya akan membawa bencana yang tentu sangat mudah bagi Tuhan untuk menimpakanNya kepada orang-orang dusta.

Dinda, AKU RINDU PADAMU…