Suara khas pak Slamet membangunkanku lewat kumandang adzan shubuh pagi ini. Dapat jua kubuka mata, meskipun semalam resah mengingat dirinya hingga baru jam satu-an aku baru bisa terlelap. Bisa jama’ah di masjid, sungguh nikmat yang tak terkatakan. Apalagi dapat pula membaca beberapa lembar alqur’an mengobati gelisah hati yang menderaku beberapa hari ini.

Aku termanggu dalam pada sebuah ayat,

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)

Sungguh aku telah merusak diriku ketika bertahun-tahun terus mengingat nama seorang gadis yang menjadi cinta pertamaku. Bukan hendak menyalahkannya, tapi aku memang tak mengerti kenapa aku sampai menjadi gila karena gadis ini.

Aku selalu berusaha untuk hilangkan wajahnya dari memoriku. Berkali-kali, sampai aku kalah sendiri, saat kesakitan-kesakitan cinta yang cuba ku jalani berakhir tragis dan meninggalkan tangis.

Beberapa hari ini aku merasakan kekuatan baru. Kekuatan yang membuatku bisa melebur masa laluku. Lewat kehadiran seseorang sosok bidadari yang menawan hatiku sejak pertama berjumpa sekian bulan yang lalu.

Setelah pertemuan berkesan itu, aku kehilangan jejaknya. Hingga suatu hari kudapatkan facebooknya lewat pencarian tak terduga. Saban hari terus ku buka wallnya. Sering kupandangi foto-fotonya yang hadirkan senyum di bibirku. Entahlah, setiap hari dan setiap waktu selalu terbesit ntuk terus melihatnya di dunia maya.  Saat itu pula cinta tumbuh bersemi di hatiku.

Aku begitu yakin bisa melupakan Greaty, gadis cinta pertamaku, demi cintaku padanya. Melupakan gadis yang kupuja bertahun-tahun lamanya demi dia yang kudamba. Masa lalu perlahan memudar dalam pikiran. Yang terlintas hanyalah kebahagiaan masa depan bersama dia yang saat ini kupanggil ADINDA.

Telah lahir semangat hidup. Beberapa teman bahagia melihatku kembali tersenyum. Namun, impian bersatu dengannya masih dalam angan-angan. Ia masih menyangsikan hatiku utuh untuk dirinya.

Lewat tulisan-tulisan yang ia baca dari blogku ini ia mengatakan,

Betapa besar cinta uda padanya… Tak mudah dilupakan, bukan.. Aku tak mau jadi pelarian, Da…

Isak menahan gemuruh di dada, mendengar jawaban pilu darinya. Aku seolah kehabisan kata untuk menjelaskan bahwa cintaku padanya bukan sekedar pelarian kisah kelamku. Betapa kuat kupatrikan janji demi dia seorang saja. Rela kuserahkan segenap hatiku untuknya. Hati yang baru, lepas dari jeratan masa lalu. Karena aku tahu, ia adalah gadis yang baik lagi terhormat. Tak akan mungkin kuberikan hatiku yang telah ternodai.

Namun, akupun bukanlah manusia suci yang bebas dari dosa. Bukan manusia baik tanpa jejak historis yang melingkupi perjalanan hidupku.

Dinda, aku punya masa lalu. Aku punya kisah-kisah panjang yang terurai sebelum aku bertemu denganmu.  Ku tuliskan semua kisahku apa adanya di blog ini. Agar engkaupun mengerti tentang siapa sebenarnya aku. Tiada ku ingin mendustai, karena tak ada gunanya merajut cinta di atas kebohongan.

Sejak tadi malam aku bertanya-tanya, apakah tak ada cinta punya orang yang punya jejak seperti diriku? Pemuda yang terus-menerus sekuat tenaga melepas dirinya dari belitan masa lalu. Pemuda yang terus-menerus berusaha menjaga raganya dari hal-hal yang nista demi bidadari yang kelak ingin dinikahinya.

Dinda, aku hanya bisa menahan sesak di dada mendengar penjelasanmu. Namun, sampai saat ini aku terus berharap, masih terbuka hatimu untuk menerima cintaku.

Aku tetap menunggumu adinda. Karena engkaulah seorang teristimewa yang mengisi hari-hariku saat ini. Ingin kubina sebuah maghligai suci bersamamu demi masa depan nan indah di kemudian hari…

Dinda, ku harap dikau mengerti dengan suara jiwa nan merindukan dirimu ini…