Tulisanku bertajuk “Silahkan Aku Diperkosa” berujung dengan kontroversi lewat komentar-komentar hebat dari para Kompasianers. Setelah kubaca kembali agaknya nuansa sarkasme dan menyudutkan perempuan terlalu kuat. Hingga kuputuskan merubah judul tulisan di kategori SOSBUD itu dengan title baru, “Cowok, Godaan Kita Donk”.

Aku tak terlalu terlibat dalam diskusi hangat di bawah tulisanku itu. Namun, tetap mencermati setiap komentar-komentar yang diutarakan. Salah satu kesimpulan menarik yang kudapatkan dari sekian banyak comment itu adalah “tidak ada hubungannya kekerasan seksual dengan pakaian minim”. Rasanya aku tak perlu mengulas hal ini, karena pakar seksual Kompasiana, Mbak Mariska Lubis, sudah cukup gamblang membahas tema ini lewat tulisan, “Rok Mini dan Kejahatan Seksual”.

Selain itu, perdebatan menarik yang terjadi adalah terkait komparasi tingkat kejahatan/pelecehan seksual di negara-negara yang berpakaian sopan dengan negara-negara yang cendrung bebas berpakaian. Terus terang penulis belum menemukan publikasi ilmiah tentang perbandingan kuantitatif kekerasan seksual yang terjadi di Barat dan di Arab. Kalaupun kita berkeras untuk membahasnya, maka pembahasan ini akan mengambang kalau tidak dibuktikan dengan penelitian empiris yang menunjukkan angka-angka yang bisa diverifikasi.

Kembali kepada judul tulisan ini, penulis hendak melakukan penjelasan tambahan ataupun klarifikasi terkait dengan apa yang penulis maksudkan dalam artikel “Silahkan Aku Diperkosa” yang kemudian penulis ganti menjadi “Cowok, Godaan Kita donk”. Memang yang penulis telisik adalah fenomena pakaian seksi yang saat ini sudah merambah kaum wanita di Indonesia. Baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun yang sudah tua. Sulit membicarakan cara berpakaian tanpa merujuk pada motivasi ataupun ideologi yang melatarbelakangi seseorang menggunakannya.

Penulis akan mencoba berangkat dari “apa yang berharga dari seorang wanita?”. Sekarang marilah kita jawab terlebih dahulu, “apa sih pandangan kita tentang tubuh wanita?”.

Jika kita menempatkan tubuh wanita terutama daerah sekitar dada dan paha sebagai organ tubuh biasa, sekedear pembeda laki-laki dan wanita, maka telanjangpun tidak akan menjadi persoalan. Namun, jika kita punya keyakinan bahwa tubuh wanita sebagai sesuatu yang amat berharga maka upaya sekuat tenaga akan kita kerahkan untuk menjaganya.

Sebuah ilustrasi ringan bisa menjadi perbandingan untuk memahami logika ini. Kalau kita punya emas ataupun mutiara belasan kilo, tentu kita akan menempatkannya di tempat yang aman, terlindungi dari ancaman pencuri. Kita tidak sembarangan memamerkannya kepada semua orang. Kalau kita ibaratkan tubuh wanita bagaikan emas dan mutiara (bahkan menurut penulis lebih berharga dari perhiasan-perhiasan itu), jangankan disentuh oleh sembarang orang, dilihat oleh orang lainpun kita tidak akan mengizinkan.

Satu lagi pernyataan aneh yang penulis temukan adalah “tak ada bedanya perempuan berpakaian sopan dengan perempuan berpakaian minim. Semua tergantung pikiran”. Kalau kita coba menarik alur ini ke arah yang lebih ekstrem, maka akan muncul term, “tak ada bedanya wanita telanjang dengan yang berpakaian”. Pada titik lebih parah lagi, “tak ada bedanya monyet telanjang dan wanita telanjang. Yang penting pikiran orang yang melihat.”

Yah, kita memang dihadapkan dengan relativitas kesopanan dan kebenaran. Namun, menjumpai orang yang merasa secara psikologis yang sama rasanya ketika menyaksikan wanita telanjang dengan wanita berpakaian, apakah ini sebuah gejala kenormalan? Entahlah..

Mudah2an kita tidak terjebak menganut feminisme yang mengedepan kebebasan perempuan, namun dalam prakteknya memperkerjakan perempuan-perempuan desa sebagai pembantu rumah tangga. Mudah2an kita  tidak berlagak rasional, namun sulit untuk melepaskan kebiasaan buruk seperti merokok yang sudah diwanti-wanti oleh dokter merusak kesehatan…

Iklan