Sebagian orang punya prinsip, “hidup hura-hura, mati masuk surga”. Sebuah gaya berpikir yang unik dengan sebuah asumsi, nikmatilah hidup sepuas-puasnya, kemudian sisihkan waktu menjelang akhir hayat untuk melakukan tobat.

Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Tuhan terlalu Pengasih untuk menghukum kesalahan makhlukNya. Sebagai manusia, khilaf itu biasa. Tidak manusia namanya jika tak pernah melakukan dosa. Ya suci itu Malaikat. Tak pernah salah dan selalu menaati perintah-perintah Tuhan.

Prinsip, “hidup hura-hura, mati masuk surga“, telah membawa sebagian orang masyuk dengan dinamika dunia. Mereguk setiap kenikmatan tanpa lagi memandang etika-etika agama. Harta diserobot dengan menghalalkan segala cara, nafsu birahi dipuaskan tanpa menengok kesucian lembaga keluarga, kekuasaan dipergunakan dengan semena-mena.

Tuhan dilupakan kala melakukan dosa dan kemaksiatan. Seolah-seolah berpikiran masa bodoh dengan Tuhan yang ngak kelihatan. Manusia punya kebebasan, tidak perlu menghiraukan aturan. Selama suka sama suka, kenapa tak diperbolehkan? Ketika meraihnya dengan usaha, kenapa harus dilarang? Toh kehidupan adalah ruang jegal-menjegal. Siapa yang pintar, dialah yang menang.

Sebagian orang melepas semua hasrat-hasrat setan dengan melakukan apa saja yang dimauinya. Kalaupun nanti ada neraka, ya Tuhan pasti akan mengampuni. Bukankah sifat Tuhan itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Tuhan yang Maha Tahu, ngertilah dengan dinamika hidup di dunia. Dia yang menciptakan nafsu dalam diri kita, maka Dia akan memaklumi setiap dosa-dosa  kita.

Tentu, pertanyaan yang layak diajukan adalah apakah surga bisa didapatkan dengan kemaksiatan dan melanggar aturan-aturan Tuhan? Marilah kita cermati sebuah cerita untuk memahami hal ini.

“Suatu ketika seorang majikan menyuruh pembantunya menanam apel. Maka diberikanlah uang kepada pembantu untuk membeli bibit di pasar dan uang lelah untuk menanam. Beberapa bulan kemudian, datanglah sang majikan men-cek perkebunan. Bukannya mendapati pohon-pohon apel, tapi malah tanaman jagung yang ia saksikan.”

Jangankan mengharapkan apel tumbuh dari pohon jagung, orang menanam padi saja harus berurusan dengan hilalang. Tentu, tidak ada ceritanya panenan apel kalau menanam jagung. Jika kehidupan di dunia ini adalah masa menanam dan akhirat adalah tempat memanen, maka sungguh aneh orang yang berpikiran “dosa akan membawa kita ke surga”. Sama halnya dengan  khayalan orang yang mendambakan apel dari jagung.

Kita memang harus punya keyakinan akan kasih sayang Tuhan kepada manusia. Dan mengharapkan hal itu melingkupi perjalanan hidup kita. Namun, berangan-angan dengan kebaikan Tuhan haruslah proporsional. Karena tak mungkin mendapatkan surga kecuali melakukan ketaatan-ketaatan kepadaNya.

Oleh karena itu, lebih baik berburuk sangka dengan apa yang telah kita kerjakan. Jangan-jangan ibadah yang kita lakukan menguap di tengah jalan karena tiadanya keikhlasan. Apalagi dengan kemaksiatan. Berpikirlah dosa-dosa yang akan kita lakukan akan menjadi penjerat kuat untuk melemparkan kita ke neraka.

“Bersusahlah dengan ketaatan di dunia, biar di akhirat, surga yang diterima”