Sorot mata tajam mengarah kepadaku dan beberapa teman satu kos yang meninggalkan perhelatan lebih dahulu. Kupikir tak ada yang salah dengan sikapku, karena acara sudah selesai. Surat Yasin telah dibaca, dan do’apun telah telah dipanjatkan. Hanya tinggal pemberian snack dan makan malam dari Tuan Rumah yang sedang berduka melepas anggota keluarganya yang barusan meninggal dunia.

Ya, aku baru saja mengikuti sebuah tradisi dalam Islam yang dikenal dengan nama Yasinan. Resepsi yang diadakan di malam hari ketika mayat telah dikuburkan. Kemudian diikuti peringatan 7 hari, 14 hari, 100 hari, dan 1000 hari pasca kematian. Aku tak tahu persis sejarah penamaan acara kematian ini dinamakan Yasinan. Yang jelas, setiap diselenggarakan, Surat Yasin (salah satu surat dalam Al Qur’an) selalu dibaca sebagai acara inti.


Aku tak ingin membahas perdebatan teologis apakah bacaan Al Qur’an bisa sampai kepada orang yang telah meninggal dunia. Akupun tak ingin menggiring tulisan ini kepada tinjauan fiqih atas kejadian eskatologis. Karena, aku tak punya otoritas keilmuan di bidang ini. Latar belakang pendidikanku hanya sekolah umum. Namun, aku mencoba menelisik aspek humanity dari tradisi Yasinan yang sudah sangat massif berkembang di masyarakat, yakni terkait pemberian makanan oleh Tuan Rumah kepada pelayat.

Akal sehatku berkata, sungguh aneh ketika orang yang sedang berduka kehilangan keluarga yang dicintai harus dibebankan oleh pengadaan makanan kepada tetamu yang telah datang bersimpati. Mereka yang sedang dirudung sedih harus disibukkan dengan pemberian konsumsi.

Bukankah seharusnya orang yang lagi dirudung malang yang mesti dibantu disiapkan makanannya, karena telah capek mengurus prosesi kematian??? Bukankah seharusnya keluarga yang ditinggal pergi lebih layak mendapatkan penghormatan dengan bantuan???

Apakah ini bentuk solidaritas yang mesti terus dipertahankan? Saat pihak-pihak yang mesti dikasihani dibelit oleh kewajiban-kewajiban yang tak mesti dipikulkan.

Aksi cabutku yang tak mau menerima makanan dari Tuan Rumah, semoga tak disalahartinya oleh masyarakat. Karena terus terang, aku tak bisa makan di tengah wajah-wajah sedih yang baru melepas kepergiaan orang terkasih…