Sebagian orang mengatakan “ukhuwah itu indah”. Ya, sebuah pernyataan sulit dibantah. Apalagi kita rujukkan kepada nash-nash agama yang berjibun dalam kitab-kitab para ulama. Diantara bentuk indahnya ukhuwah adalah menenangkan hati, menyambung silaturahmi, dan memperluas rezeki.

Tapi aku punya pengalaman tak mengenakkan dengan ungkapan metaforis ini. Aku didera kemaksiatan karena juga berpikiran bahwa “ukhuwah itu indah”. Tak lagi menghiraukan etika pergaulan karena terbius dengan kata-kata manis berbalut nilai-nilai teologis.

Sesungguhnya manusia itu bersaudara, maka ulurkanlah tanganmu kepada siapa saja. Jalinlah hubungan sekuat engkau bisa. Argumentasi ini telah membuat beberapa orang terlena. Asyik dengan pergaulan lawan jenis tanpa lagi menghiraukan norma-norma agama.

Menelpon sekehendak hati, melontarkan kata-kata manis merayu hati, dan membujuk jiwa yang sedang birahi. Apakah semua itu pantas dilakukan? Berapologi sebagai usaha saling mengerti dan memahami, maka tindakan ini kemudian mendapat pembenaran.

Ah, aku tak mau lagi jatuh dari jeratan wanita bermulut manis berapologi agamis itu lagi. Suaranya telah membuatku gila. Tak lagi bisa membedakan mana yang benar, mana yang hina. Membuatku menjauhi logika normal. Menghilangkan common sense yang telah ku cuba pelajari dengan penuh kesungguhan.

Ku mohon, jangan engkau ganggu aku lagi. Aku tak mau terjerat lagi. Aku tak mau menyakiti gadis yang ku kenal saat ini. Karena ia tak pantas mendapatkan diriku bergelimang debu beban masa lalu. Aku ingin bidadariku itu menerima cinta yang utuh. Cinta yang tak terbagi, meskipun telah terkotori oleh sejarah hidup yang tak bisa ku hapuskan.

Aku ingin menjalani hidup dengan memori baru. Mencintai bidadariku dengan hati yang baru. Karena aku tak ingin menyakitinya dengan masa laluku.

Mulai detik ini, ku mohon jangan ganggu aku lagi. Bukankah engkau sudah punya calon suami. Silahkan bermesraan dan masyuk dengan calon suamimu. Jangan ganggu aku. Karena aku ingin memulai hidup baru, bersama bidadariku…

Ku mohon, ENYAHLAH dari HIDUPKU