Era ini adalah masa-masa berat buat para lelaki. Sebagai jenis human yang diberkahi daya visualisasi tinggi, mereka harus menahan nafas dan mengurut dada, menahan gejolak syahwat yang bisa ditemui dimana saja. Enggak di mall, di kantor, kampus, warung, pokoknya hampir di setiap sudut yang ada manusia.. He2..he2..

Aku masih ingat masa SMP dan SMA dulu. Memperhatikan teman-teman yang lagi cuci mata dengan pura-pura menjatuhkan pena ke bawah meja demi melihat paha wanita. Rezeki tambahan kalau operasi ini bisa melacak apa warna celana dalamnya.
Berbeda dengan zaman sekarang. Tindakan-tindakan secret operation seperti ini tak lagi populer. Bahkan mungkin tak perlu dilakukan. Toh para wanita sudah sangat terbuka. Mata seolah berada di surga (mungkin bagi yang alim neraka kali ya….he2..) karena daerah sekitar dada dan paha bisa dinikmati tanpa harus bersusah payah.

Aku tak tahu persis, siapa perancang busana-busana sekedar penutup 2 tempat sensitif wanita itu sehingga para pria bebas berimajinasi dalam giringan syahwat birahi. Aku juga tak tahu kenapa celana-celana sepaha, pakaian ketat seadanya menjadi trend yang sangat disukai oleh wanita.

Entah karena ini adalah respon terhadap global warming yang telah menaikkan suhu dunia sehingga pakaian dibuat layaknya masa-masa purbakala, atau mungkin wanita sudah tak lagi memperdulikan tubuhnya? Ya, mungkin ini perlu penelusuran lebih lanjut.

Namun, kembali kepada nature lelaki yang terstimulus oleh visualisasi, maka fenomena ini merupakan sebuah momen eksploitasi birahi. Mengapa tidak? Memamerkan paha dan dada akan mengundang nafsu liar para pria. Membuat pria termotivasi untuk mengali lebih jauh bagaimana sih rasanya apa yang ada di dua tempat vital ini.

Dalam bahasa yang kasar, mungkin kita bisa membuat ilustrasi, kehadiran wanita berpakaian seksi seolah-olah sebagai publikasi, “hai Cowok, lihatin kita dunk”… Maka jangan salahkan pria yang bermata keranjang untuk memperkosa wanita jalang. Di sinilah berlaku hukum stimulus-respon, aksi-reaksi.

Melalui mimbar ini, ku mohon kepada para wanita, jangan terbiasa memakai pakaian seksi. Bukan hendak munafik atau berlagak suci, sungguh pesona tubuh yang dipublikasi membuat pusing plus susah untuk konsentrasi… Bagaimana kaum Hawa???