Aku terpaku di dalam kamar. Dirudung resah tak berketentuan. Drama “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk” yang digubah dari novel Buya Hamka, menggiringku kembali mengingatnya. Sebuah nama yang telah kucuba untuk ku hilangkan dari hati terdalam. Namun, tiap kali melupakan saat itu pula ia hadir dalam momen tak disangka-sangka.

Begitu mengharu biru aku mendengarkan kisah drama “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk” yang dikirimkan oleh seorang adek yang baik di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dia juga pengagum Hamka seperti diriku. Sebuah drama audio yang salah pemerannya adalah Elly Kasim penyanyi Minang legendaris.

Dua kali kuputar cerita yang berdurasi 59-an menit itu. Air mata berurai. Angan jauh melayang ke kampung halaman. Merenungi setiap kata yang diucapkan, kembali membawa memoriku mengingat dirinya. Alunan musik khas Minang, membuat kerinduan membahana, ingin segera kembali pulang.

Aku larut dalam emosi. Hingga kutuliskan serangkai kata-kata di wall facebookku.  “Ibarat kasih tak sampai Zainuddin kepada Hayati”.

Status yang mengundang simpati beberapa teman, terutama seorang adik kelas SMA yang dulu bersama-sama tampil membawakan kesenian tradisional Randai.

“Mulai lg deh.. Dosa lho da jika terlalu menggagungkn seseorang.. Mulailh untuk berfikir kdpn. Kasihanilah calon istri uda kelak krn uda membiarkn sebagian dr hati uda pergi. Brkan sja u yg pnts. Tuhan tdk akn membrkn pggntiny jk uda msh terpaku pdnya. Ingat bdadari allah akn jauh lbh baik drnya.Srhkn ht uda pd allah biar DIA yg menentukn. Ok da”

Sedikit aku tersadar dari halusinasi mengenang Greaty. Timbul kesadaran, sampai kapan aku harus terus mengingatnya. Ah… Memendam perasaan seperti ini membuatku gila.

Telah kucuba mencari pengantinya. Dengan sekuat tenaga kucuba nyatakan cinta kepada gadis lainnya. Sekuat aku berusaha, sekuat itu juga penolakkan demi penolakan ku terima. Rasanya aku sudah kehilangan muka memperjuangkan cinta.

Kucuba mencari penawar pada hati yang lain. Tapi, tiada yang mau menerima. Saat terpuruk seperti inilah aku kembali mengingatnya. Mengingat cinta pertama, yang begitu berkesan.

Entahlah, apakah aku sedang mencari justifikasi atas kekalahan demi kekalahan yang ku derita. Hingga aku hanya bisa berangan-angan kepadanya. Karena saat mengangankannya, terobati jua sakit tak terkira.

Jika memang ini adalah takdirMu atas diriku Tuhan, ku cuba tabah menjalani semua. Karena aku memang hamba, tak ubahnya seperti boneka, yang tak sanggup melawan kuasaMu…