Di tengah kekisruhan lembaga-lembaga penegak hukum negara, kita disajikan dengan fenomena menarik dengan kehadiran Parlemen Online yang berbasis facebook dan twitter. Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto hingga detik ini telah menorehkan angka 1.250.777 account. Pencapaian yang oleh sang pembuat group tidak diduga sebelumnya.

Parlemen online menjadi fenomenal di tengah sulitnya mengharapkan suara oposisi dari gedung DPR. PDIP yang dulu digadang-gadangkan sebagai partai oposisi dengan suara signifikan pada tahun 2004-2009 sudah kehilangan arang untuk bersuara lantang. Pilihan menjadi oposisi telah membuat mereka kehilangan banyak insentif untuk membiayai partai. Di sisi lain, kader-kader kritis mereka sering diuber-uber dengan kasus-kasus tertentu sehingga menjadi keder di depan penguasa.


Di tengah kuatnya legitimasi penguasa dan kuatnya dukungan parlemen maka sangat susah untuk mengharapkan penyelesaian dari penguasa. Maka kehadiran Parlemen Online dirasa sebagai penyulut genderang perlawanan baru untuk menyeimbangkan dominasi politik yang sudah tak sehat lagi.

Tentu yang menarik kita cermati adalah sejauhmana efektivitas Parlemen Online dalam mengawal proses pencarian keadilan yang melibatkan Polri-KPK- Kejaksaan. Paling tidak ada 3 kritik atas fenomena Parlemen Online. Pertama, perlawanan online melalui facebook dan twitter hanya menjangkau orang-orang menengah ke atas perkotaan. Sehingga tak mampu diakses oleh kaum pinggiran dan pedesaan. Kedua, sifat narsisme facebook dan twitter tak lebih dari suara mengambang yang tidak punya kekuatan yang real. Ketiga, tidak ada catatan sejarah yang menorehkan turunnya sebuah rezim lewat kekuatan dunia maya.

Implikasi lanjutan dari perjuangan lewat Parlemen Online adalah ketika orang sudah puas berkoar-koar di dunia maya, maka ada indikasi gerakan jalanan akan dianggap sebagai bentuk perlawanan yang aneh. Demonstrasi akan dikatakan sudah ketinggalan zaman. Padahal, lewat gerakan jalanan-lah banyak rezim dijatuhkan.

Oleh karena itu, agak Parlemen Online tidak hanya sebatas pergulatan di dunia maya, maka penyadaran secara langsung kepada masyarakat perlu dilakukan. Memberikan sebuah pelajaran tentang apa sesungguhnya terjadi lewat face to face menjadi menjadi penting. Selain itu, kita harus mengiring Parlemen Online tidak puas berteriak di alam virtual saja, tapi lebih dari itu, kekuatan kaum menengah terpelajar ini bisa dimobilisasi dalam bentuk perjuangan nyata lewat Parlemen Jalanan.

Tentu kita berharap, para anggota Parlemen Online bukan sekedar upaya ikut-ikutan. Namun lebih dari itu, hal ini bisa menjadi sebuah bentuk kesadaran atas pembacaan cerdas dari orang yang mengerti perkara dan situasi. Mudah2an fenomena ini menjadi arus positif baru perbaikan demokratisasi Indonesia di masa yang akan datang. Salam Perjuangan…