Mengutip sebuah artikel yang dirilis Kompas Edisi Kesehatan dengan judul Istri Pintar dan Lebih Muda, Kunci Bahagia? , kubuat sebuah status di wall facebook-ku,

“Bila istri lebih tua (selisih usia lima tahun atau lebih) ketimbang suami, kecenderungan untuk bercerai mencapai tiga kali lipat dibanding jika usianya sama (European Journal of Operational Research)… alhamdulillah, untung ngak jadi pacaran sama wanita yang lebih tua..:)”

Ungkapan alhamdulillah kusertakan, karena memang aku punya pengalaman agak tidak mengenakkan ketika dikenalkan oleh seorang teman dekat dengan seorang wanita 4 tahun lebih tua. Apa yang kurasakan dari berhubungan kurang lebih 4 bulan dengan gadis baik itu? Aku serasa ditekan. Jadwal hidupku tak lagi beraturan karena diberodong oleh telpon, ngak malam ngak siang. Privacy-ku untuk berkegiatan coba dikendalikan.

Salah satu alasan yang paling kuatku untuk memutuskan hubungan ini adalah orang tua yang tak setuju. Bapak begitu marah kepadaku. “Apakah tak ada wanita yang lebih baik? Toh gadis-gadis sholeh yang lebih muda darimu banyak, Gun. Kenapa harus memilih yang lebih tua?” Begitu kata Bapak yang tak habis pikir kenapa diriku bisa terlena dengan wanita yang lebih tua.

Perdebatan wanita tua yang menikahi pria lebih muda dalam wacana Islam sering dilandaskan pada kisah Nabi Muhammad yang menikah dengan Khadijah. Sudah mafhum bagi kaummuslimin bahwa Khadijah seorang janda berstatus saudagar kaya di Makkah lebih tua umurnya sekian tahun dari Rasulullah (Muhammad saw). Makanya seorang teman menimpali statusku itu dengan ungkapan, bagaimana dgn Siti khadijah?

Kemudian aku mencoba untuk membuat sebuah uraian singkat,

“Sungguh jauh membandingkan orang sekarang dengan Khadijah mbak..  Saya ngak mau berapologi dengan Rasulullah mbak.. Terlalu mulia beliau untuk membahas hal ini.. Saya hanya mencoba menelisik dari sebuah publikasi ilmiah.. dan Saya pikir publikasi ini ada benarnya juga…”

Kemudian saya menyambung pernyataan ini dengan kalimat-kalimat yang lebih panjang,

“Secara alamiahnya, memang pria lebih enjoy dengan wanita yang lebih muda darinya dan wanita lebih merasa nyaman dengan pria yg lebih dewasa darinya…

Mohon jangan bawa ini kepada Rasulullah.. karena Nabipun pada akhirnya menikah dengan wanita yang lebih muda.. kalau mau niru Rasulullah maka perempuan harus siap dipoligami..

Terus terang saya adalah orang yang masih melihat monogami adalah bentuk pernikahan yang ideal.. oleh karena itu mari melihat ini dengan common sense tanpa menarik2 kepada kehidupan pribadi Rasulullah yang rasanya terlalu hina kita untuk dibandingkan dengan rumah tangga yang beliau bina..”

Saya memang agak jengah dengan justifikasi beberapa orang yang melandaskan apa yang ia lakukan kepada Nabi. Padahal motivasi Nabi melakukan sesuatu, tidak mereka telisik lebih jauh. Menyandarkan diri kepada Nabi lebih banyak didasarkan klaim kesholehan dan kebenaran diri. Menganggap diri mendekati kebaikan dan kesantunan Nabi.

Maka tak salah, seorang yang menamakan dirinya Siti Noorhaliza menjudge dengan pernyataan,

“Sesungguhnya salah satu tanda akhir zaman ialah makin banyak orang yg pandai tapi bukan membuat semakin dekat dengan Allah dan Rasulullah!”

Sebuah ungkapan yang menyudutkan, dengan mengatakan orang-orang yang berpikiran bahwa pernikahan perempuan lebih muda dari pria dengan melandaskan diri pada publikasi ilmiah adalah orang-orang pandai tapi jauh dari tuntunan Allah dan Rasulullah. Serangan yang dirangkai tanpa membaca secara keseluruhan kisah pernikahan rumah tangga Rasulullah.

Sebuah klaim kebenaran dari seorang yang telah melakukan kebohongan publik dengan mencatut nama seorang penyanyi terkenal. Yang bersembunyi dibalik ketenaran dan foto Kak Siti Nurhaliza yang teramat kukagumi dengan penyampaian komentar memakai dalil-dalil agama. Hah, profilenya aja sudah bohong, apalagi kalimat-kalimat yang dituliskannya?

Akhirnya aku teringat dengan obrolan dengan seorang teman yang pernah ke Jerman setelah memenangkan lomba karya tulis ilmiah tingkat internasional, memang sulit agama digiring untuk menghakimi sebuah temuan ilmiah.

Aku hanya ingin meletakkan posisi Rasulullah secara proporsional. Jangan bawa-bawa nama Rasulullah untuk menjustifikasi emosi yang lahir dari pengalaman pribadi kita sendiri. Agama memang memberikan tuntunan. Tapi aku tetap percaya bahwa common sense bisa digunakan sebagai panduan untuk melakukan sesuatu. Bagiku, publikasi ilmiah terkait dengan pernikahan ideal laki lebih tua dari wanita bisa diterima kebenarannya.

Iklan