i_love_you_001Masih melalui malam-malam resah. Menjelang tidur di bawah suasana gerah. Aku mencoba untuk memikirkan apa artinya cinta? Sebuah kata yang telah membius hampir seluruh orang di dunia. Sebuah kata yang membuat orang rela berkorban apa saja. Bahkan menjadi gila-terluka karena tak mampu meraihnya.

Ya, siapapun tak dapat menolak betapa hebatnya cinta membawa dunia dalam kejadian-kejadian heroik. Epik-epik romantis lagi tragis karena memperjuangkan cinta, mengisi lembaran-lembaran sejarah manusia. Baik dalam bentuk sastra maupun dalam narasi cerita.

Cinta melahirkan tawa. Cinta hadirkan derita. Persenyawaan sakit dan gembira telah membuat hati manusia mengharu biru. Kadang ia menjadi begitu baik karena hatinya diliputi oleh cinta. Kadang ia menjadi begitu beringas karena hatinya terlukai oleh cinta.

Namun, apakah cinta akan abadi selamanya? Hingga manusia diwajibkan untuk terus memperjuangkannya? Cinta meskipun bernuansa immateri, tapi dibelit oleh nafsu ragawi. Apakah bisa kita melepaskan cinta dari birahi, dan keinginan untuk memiliki?

Rasanya tidak. Cinta yang dianggap sakral itupun, tak bisa melepaskan dirinya dari aksi-aksi jasmaniah. Kehangatan tubuh kekasih tak bisa lepas dari pikiran orang yang saling mencintai. Apakah ada cinta tanpa sentuhan? Apakah ada cinta tanpa ciuman? Apakah ada cinta tanpa pergelumutan di ranjang?

Jika keluarga adalah bentuk maghligai yang dipuja-puja oleh orang-orang beragama dianggap sebagai puncak dari ekspresi cinta, maka semakin jelaslah bahwa cinta tak sekedar roh suci yang lepas dari materi. Ada geliat asrama yang melahirkan anak. Ada hubungan intim yang selalu dirindukan untuk dilakukan oleh suami-istri.

Agaknya dari kaca mata inilah kita bisa memahami ungkapan seorang psikoanalisis terkenal, Erich Fromm:

“Cinta adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal dan memuaskan terhadap masalah keberadaan manusia”

Ya, karena cintalah manusia terus berkolaborasi untuk menghasilkan generasi demi generasi untuk “mengabadikan” spesiesnya di muka bumi. Cinta yang sarat dengan aspek biologislah yang membuat manusia masih hadir sampai saat ini.

Akhirnya memang kita tak dapat memungkiri, manusia tak bisa hidup tanpa cinta. Sebagaimana Enstein pernah berkata,

“hanya cinta yang dapat memberikan semangat kehidupan”.

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang terluka karena cinta, trauma dan merana karena dikecewakan oleh cinta? Manusia-manusia sepi yang terhenti di tepi jurang, karena jembatan cinta yang putus hingga membuatnya tak bisa berjalan ke seberang?

Entahlah, akupun masih mencari apa arti semua ini. Namun, dalam malam-malam resahku akhir-akhir ini, timbul satu pertanyaan, apakah cinta itu abadi???

Iklan