Pudarnya Pesona Akhwat


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya siang ini hujan kembali basahi bumi. Perlahan suasana gerah berubah menjadi sejuk. Sejak dulu aku suka hujan. Suka dengan bunyi rintik-rintiknya yang khas.

Kunyalakan jet audio dengan sebuah tembang berkesan, Aku Cinta Padamu dari Siti Nurhaliza. Sebuah lagu yang membawaku masyuk dengan kenangan masa lalu. Ya, persis kelas 2 SMP. Saat pesantren kilat di SMP Greaty, SMPN 1 Kota Solok. Tembang yang diputar oleh bioskop di seberang jalan. Persis setelah sholat Isya ditunaikan.

Tadi pagi, aku kembali menyambangi kampus. Kuliah ulangan dengan pak Misnal Munir dengan subject Filsafat Barat Modern. Hanya memakai sandal, karena sepatu masih basah terjemur. Untung saja tak diusir dari ruangan. Karena ini adalah sebuah pelanggaran etika perkuliahan…:)

Di semester akhir ini, kampus terasa sepi. Tak ada teman yang bisa diajak ngobrol. Setelah kuliah selesai, segera aku ke perpustakaan fakultas yang barusan direnovasi. Di sudut perpus ku lihat sebuah laptop menyala dengan desktop foto perkawinan ala Minangkabau. Kayaknya ibu-ibu sang pemilik notebook punya darah Minang. Mungkin beliau mahasiswa baru di pasca sarjana filsafat. Karena baru kali ini kulihat wajahnya… (Ha2.. Sok tahu… Tapi memang pengalaman 7 tahun kuliah, mudah bagiku untuk mengenali orang baru atau bukan… he2..)

Adzan Dzuhur berkumandang merdu dari Masjid Kampus UGM. Segera menuju parkiran ambil Grand 97 yang menemaniku satu tahun ini. Tak lagi kutemukan suasana syahdu seperti dulu. Meski menatap “akhwat-akhwat berjilbab dalam” masih menimbulkan rasa spesial di hatiku. Rasa penghormatan dan kekaguman. Tapi getaran itu tak sekuat dulu.

Entahlah, dulu aku punya impian menikah dengan akhwat bercadar. Seiring perjalanan waktu, akupun menurunkan kriteria, cukup berjilbab besar saja. Parahnya beberapa bulan ini aku berpikir, berjilbab atau tak berjilbab sama saja.  Yang penting masih sholat dan punya perilaku yang baik lagi sopan.

Ah, apakah ini degrasi keimanan? Karena tak lagi mendatangi pengajian, ngak lagi baca Qur’an. Sholatpun sering telat dan tak jama’ah di masjid.

Ya Tuhan, adakah jalan untukku lepas dari kehinaan ini? Lepas dari kebimbangan dan jeratan duniawi. Akhir-akhir ini halusinasi kematian menghantui malam-malamku. Hadirkan kengerian dan ketakutan.

Tuhan, aku takut dengan siksaMu. Takut dengan neraka dan murkaMu. Tuhan, kembalikanlah aku ke jalanMu. Jalan yang tenang lagi menentramkan jiwaku.

Iklan

One thought on “Pudarnya Pesona Akhwat

  1. Setiap diri sudah tahu jalan kembali,…..jalan menuju Illahi
    Tapi kenapa kaki ini enggak melangkah tuk melalui jalan Nya.

    Setiap Insan tahu kesalahan, tahu kemaksiyatan …yang membuat beban langka menuju Ridho Nya…..

    Kapan lagi harus kembali……kalau bukan hari ini…….
    karena lusa kita tak tahu…adakah hati mampu membaca kekhilapan diri…….. atau menjadi kelam akibat sejuta noda kesalahan……

    Hingga tak mampu menerangi jalan Pulang…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s