Menjelang usia 25 tahun tanggal 23 november ini aku dilanda kebimbangan. Resah yang ku pikir pantas bukan seorang pria dengan track record kelam dalam percintaan. Seperempat abad aku hidup di atas dunia ini, belum pernah kurasakan cinta sebenarnya. Ya ada cuma aku merindukan seseorang yang tak pernah punya rasa kepadaku.

Beberapa hari ini aku menjadi gila. Ku buat status paling aneh selama aku menjadi facebookers. “Ada yang mau jadi pacarku???”. Sontak saja teman-temanku bertanya. Kesambat dimana si Anggun yang dulu sangat anti dengan yang namanya pacaran?

Tiap memejamkan mata, aku diburu oleh mimpi buruk akan wajah-wajah orang-orang pernah kucintai yang sekarang sudah bersuami. Entah kenapa, aku juga tak mengerti.

Akhir-akhir ini aku selalu bertanya, mengapa mereka memilih pria itu? Ku cuba untuk membuat perbandingan. Ku perhatikan wajah-wajah laki-laki yang berhasil mendapat mereka, tak lebih tampan dari wajahku. Ku selidiki status dan kekayaan mereka, tak melebihi status dan kekayaan keluargaku. Ku amati kecerdasan mereka, tak hebat-hebat amat untuk mengalahkan kemampuan otakku. Tapi mengapa mereka memilih mengabaikanku untuk menikah dengan laki-laki itu?

Detik-detik usia 25 tahun ini memang membuatku gamang. Ada dorongan untuk tak lagi mencintai wanita. Ada bisikan bahwa dunia akan bisa kulalui tanpa kehadiran wanita. Pengalaman 25 tahun tanpa kehadiran wanita bisa kulalui meski tertatih-tatih karena cinta yang masih menggebu di hati ini. Dan hari ini, kok rasanya aku lebih nyaman untuk menyepi tanpa harus tersiksa karena sakit hati.

Ah.. Entahlah.. Aku juga tak yakin dengan tekad untuk terus sendiri. Mungkin bisikan-bisikan anti wanita ini tak lebih karena emosi sesaat saja. Ditambah lagi hanya pengalaman dengan beberapa wanita saja.

Aku masih yakin ada gadis-gadis baik yang akan menerima cintaku. Karena dunia ini tak sebesar daun kelor. Baru pulau Sumatera dan Jawa yang ku tempati. Masih Indonesia yang kuarungi. Masih ada belahan dunia lain yang belum kusinggahi. Siapa tahu, kekasih hatiku orang Arab sana. Ataupun orang Inggris.

Sakit hati karena cinta terus jadi putus asa??? Kayaknya ngak zamannya lagi deh. Suatu hari aku akan membuktikan kepada gadis-gadis itu, “Maaf mbak, ternyata pilihanmu untuk mengabaikanku adalah pilihan yang salah”…