Sampai jam 3 dinihari, Jum’at 6 November 2009, DPR masih melakukan rapat dengan jajaran Polri terkait dengan permasalahan “kriminalisasi KPK”. Rapat terbentur oleh pemilihan redaksi kata sebagai kesimpulan dari pertemuan. Rasa-rasanya sidang dewan terhormat tak lebih dari kelas bahasa untuk mencocok-cocokan kata yang tepat untuk direkomendasikan kepada Polri.

Entah karena pimpinan dan mayoritas anggota Komisi III DPR masih baru menjalani sidang-sidang kenegaraan, agaknya terlalu lucu memperhatikan tingkah polah mereka. Pimpinan sidang membaca kesimpulan yang belum disepakati oleh seluruh anggota.

Kasihan Kapolri dan seluruh jajarannya menyaksikan perdebatan redaksional di antara anggota DPR Komisi III yang belum bersepakat. Kasihan rakyat Indonesia yang telah memilih orang-orang yang hanya menghabiskan uang negara.

Seharusnya sebelum pimpinan mengambil kesimpulan, diadakan dulu rapat internal di antara seluruh elemen Komisi III DPR. Berdebatlah sematang mungkin. Hingga bisa dirumuskan rekomendasi yang jelas dan tidak bertele-tele. Mempertontonkan perdebatan di depan Polri, akan menunjukkan tampang tak berwibawa para anggota dewan terhormat. Sungguh sangat jelas bagaimana Kapolri dan bawahannya harus menahan geli melihat tingkah pola anda duhai para “wakil rakyat”.

Aneh, kenapa orang-orang seperti itu menjadi wakil kita di lembaga terhormat sekelas DPR. Apakah mereka tidak pernah belajar logika merumuskan keputusan?

Menikmati sidang dagelan ini, membuat kita menjadi semakin binggung. Meskipun seringkali anggota dewan terhormat itu mengatakan ingin memberikan pemahaman yang jernih kepada masyarakat. Apa sih yang mau dijernihkan? Toh sidang-sidang penting terkait kasus KPK ini sudah dipublish secara massal oleh media. Apakah mau mengatakan media telah menyesatkan opini publik???

Lebih aneh lagi adalah pandangan umum 3 wakil ketua Komisi III dari PKS, PKB dan Golkar. Semuanya sama, berkata-kata manis menyanjung SBY. Yang dari PKS bilang masalah ini telah membuat SBY tak bisa fokus menjalankan pemerintahan, dan mengungkit-ungkit juga tentang aspek ekonomi yang berjalan stagnan. Yang dari PKB mencoba membawa-bawa nama ulama besar, Imam Syafi’i, padahal ngak ada hubungannya dengan kasus KPK. Yang dari Golkar merangkai kata akan mengawal kasus ini untuk melancarkan program pemerintahan SBY.

Ah, apa sih yang sedang dilakukan oleh para anggota dewan terhormat ini??? Cuma habis-habisin uang rakyat aja. Bersedihlah rakyat Indonesia, karena DPR yang diharapkan sebagai penyambung lidah rakyat hanya omong-omong belaka….

Sekarang saatnya massa bergerak. Bersama para intelektual yang masih sudi memikirkan negara bukan karena imbalan kuasa, tapi atas dasar kecintaan dan keprihatinan atas nasib bangsa yang porak poranda. Saat bergerak wahai mahasiswa…