Badan dah capek. Tapi mata tak mau juga dipejamkan. Panas yang melanda kota Jogja hadirkan gerah berkelindan resah. Kucuba obati hati lewat suara lembut kak Siti Nurhaliza. Mengobati kecewa demi kecewa yang menghampiri hidupku.

Lelah rasanya mencari mata air cinta. Sepanjang waktu ku berusaha ntuk menemukannya. Namun hanya kehampaan yang kudapati. Kadang putus asa menyelimuti diri. Timbul tanya, Ya Tuhan kenapa sulit untuk menemukan cinta untuk hilangkan gelisah di hati?

Diiringi suara merdu Kak Siti Nurhaliza, kukirimkan sebuah sms kepada mbak Ivana. Sahabat nan begitu baik, yang sudah ku anggap kayak adik sendiri.

“Dek, Kak Siti Nurhaliza tu cantik ya…:) Suaranya nan merdu, hilangkan gundah hati nan gelisah menunggu hadirnya cinta sejati… Apakah ada gadis titisan Kak Siti ya?…”

Selang beberapa menit, mbak Iva membalas smsku.

“Jangan mencintai gadis karena ia menyerupai gadis lain yang kau sukai. Tak ada seorangpun gadis yang mau diperlakukan seperti itu. Cintailah seseorang dengan hatimu dan cintai hatinya…”

Aku tersentak dengan jawaban mbak Iva. Seolah aku tak mengetahui tentang bagaimana harus mencinta.

Aku ingin mengoreskan kata demi kata. Menerjang malam yang sudah mulai sunyi. Menumpahkan kekesalan. Karena tak mungkin berteriak di dalam kamar sementara teman-teman yang lain sudah terlelap di bawa mimpi.

Hari ini aku benar-benar kecewa. Harap bisa menjadi nominator lomba blog British Council. Tapi hanya tinggal impian yang tiada terealisasi.

Aku benar-benar kecewa dengan kualitas tulisanku. Aku kecewa dengan cara berpikirku. Aku kecewa dengan kemampuan retorikaku yang tak ada apa-apanya.

Aku muak dengan diriku sendiri. Aku muak dengan tulisan-tulisanku sendiri. Tulisan yang lahir hanya karena emosi. Tulisan yang hampa tak memberikan inspirasi. Tulisan berkualitas rendah tak lebih seperti sampah.

Aku muak dengan diriku sendiri. Diri yang tak mampu memahami bagaimana harus menghormati seorang gadis. Diri yang sok suci, padahal berkubang kehinaan. Diri yang berkoar-koar menyuarakan kebaikan, tapi larut dalam kemaksiatan.

Mungkin inilah takdir atas segala kebusukkan yang telah kulakukan. Jika harus dibenci, kayaknya inilah suratan untukku. Tak pernah menemukan cinta. Mungkin inilah karma Tuhan untukku.

Aku tak akan mengumpat Tuhan karena semua ini. Aku apa yang terjadi bukanlah kesalahan Tuhan. Namun, kebodohan diri sendiri yang tak mampu terobati.

Terima kasih buat semuanya yang telah menamparku dengan penolakan dan penolakan. Tiada aku membenci. Karena inilah balasan yang layak buat pria brengsek yang egois mementingkan dirinya sendiri.