Kehadiran Filsafat Perennialisme menjadi berarti dikarenakan ada dua hal yang melingkupi dunia hingga saat ini. Pertama, konflik agama yang tak kunjung selesai meski telah dimediasi dengan berbagai cara. Perseturuan abadi Islam dan Yahudi di bumi Palestina menjadi bukti ketidakmampuan kekuatan politis dan diplomatis. Acara-acara pemurtadan berkedok solidaritas sosial masih merajalela. Sikap sinis dan kebencian terhadap agama lain masih diteriakkan tidak saja oleh kaum ekstremis, tapi juga dikumandangkan oleh orang-orang yang mengatakan dirinya humanis.

Kedua, jauhnya masyarakat modern dari nilai-nilai Ilahiah dinilai oleh kaum Perennialis (otomatis spiritualis) sebagai penyebab kegersangan kehidupan yang membuat manusia tak lagi harmoni dengan alam. Manusia telah semena-mena melakukan pengrusakkan terhadap alam dikarenakan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Renaissanse dan Aufklarung telah sukses mengangkat derajat kemanusiaan, terlepas dari beleggu doktrin agama yang mematikan kekuatan akal. Jadi tak ada urgensinya mengakui keberadaan Tuhan.

Aroma perdamaian tampak menyejukkan. Menghadirkan surga di dunia tanpa gejolak dan kekerasan. Sebuah harmoni atas dasar pengagungan terhadap keberadaan Tuhan. Manusia dan alam tak lebih manifestasi Realitas Ultim yang seharusnya saling berangkulan bukan saling bermusuhan.

Tentu pertanyaan kritis yang mesti dimunculkan, apakah benar filsafat perennial bisa membawa kehidupan manusia lebih baik dari keadaan-keadaan sebelumnya? Tulisan ini akan coba mengangkat beberapa problematika yang mesti dipecahkan agar suara mengembirakan dari Perennialisme tidak sekedar slogan belaka.

Marilah kita awali telaah ini dengan menampilkan fakta bahwa sejarah peradaban telah dihiasi oleh darah sejak awal kemunculan manusia. Tradisi kuno yang begitu diagung-agungkan oleh kaum perennial sebagai bukti universalitas Realitas Ultim telah dikotori oleh darah-darah gadis perawan yang menjadi korban untuk menyenangkan Tuhan. Sejarawan perang tidak akan melepaskan tinta penanya dari perang atas nama Tuhan, Perang Salib yang terjadi dalam 10 episode sepanjang abad 11 sampai abad ke 13, tradegi Holocoust yang menyisakan traumatik mendalam bagi orang-orang Yahudi hanyalah beberapa contoh cerita besar ketidakberdayaan Tuhan yang diklaim sebagai realita tertinggi untuk menghentikan pertengkaran di antara manusia.
Berbesar hati dengan klaim kesepakatan di atas keragaman keyakinan di dunia ini dengan berprasangka baik bahwa Tuhan menyayangi manusia, seolah-olah menertawakan para Martir yang mati konyol demi agama. Mengolok-olok para korban Perang Salib sebagai orang dungu yang tak mengerti firman Tuhan. Tersenyum sinis sambil mengatakan, “buat apa engkau saling membunuh demi khayalan surga yang diucapkan oleh pemuka-pemuka agama?” Bertepuk tangan atas usaha Hitler membumi hanguskan bangsa Yahudi.

Di sisi lain, filsafat perennial yang ingin menarik akar-akar kesadaran religiusitas seseorang melalui simbol-simbol, ritus-ritus serta pengalaman keagamaan pada satu kesatuan telah mengabaikan proses terciptanya sebuah tradisi keagamaan. Sebagai contoh, peringatan wafat dan kenaikan Isa Al Masih tak bisa dilepaskan dari dendam historis orang-orang Nasrani terhadap Yahudi. Tak dapat dipungkiri, esensi ajaran Kristiani adalah kepercayaan terhadap Trinitas dan penyaliban Yesus sebagai penebus dosa-dosa manusia. Di lain pihak tauhid yang dibawa oleh Muhammad telah menegasikan posisi Yesus sebagai putra Tuhan. Ritual Pasover yang sampai hari ini diperingati oleh orang-orang Yahudi merupakan manifestasi ingatan historis terusirnya mereka dari tanah Mesir.

Menyandarkan pada pembuktian metafisis bahwa Tuhan merupakan realitas absolut tak terbatas sehingga ketika memasuki ruang empiris manusia terjadi keragaman tak terhindarkan, perenialis menganggap kisah-kisah traumatis psikologis pertentangan antar agama hanya persoalan biasa yang dapat didamaikan ketika orang menyadari bahwa agama-agama sama-sama memberikan jalan keutamaan menuju Tuhan. Sebuah anggapan spekulatif tanpa menelisik lebih jauh sesungguhnya alam bawah sadar kebencian yang intrinsik termanifestasikan dalam doktrin-doktrin agama tidak akan pernah selesai kecuali ajaran-ajaran yang menyulut permusuhan abadi antar agama ini dihapuskan.

Alih-alih memberikan tawaran solutif dan menjembatani demi rekonsiliasi, asumsi-asumsi Perenialis terhadang oleh jurang penisbatan kesejatian kepada pandangan masing-masing guru spiritual. Sabagai mana yang diungkapkan oleh Adofl Huxley bahwa cara terbaik mempelajari filsafat perennial adalah melalui para tokoh yang dikenal sebagai orang sholeh/sufi/mistikus .

Perbedaan esensial masing-masing agama terletak pada “imajinasi” penggambaran Tuhan. Aspek theos-lah yang menjadi pluralitas manifestasi kepercayaan Ilahiah. Mengusahakan sebuah kesatuan dengan dalil bahwa secara esoteris berbagai bentuk “komunikasi” manusia dengan Tuhan merupakan solusi imajinatif menghindari konsekuensi saling membatalkan di antara tradisi-tradisi agama yang berbeda.

Kehadiran filsafat perennial yang berwatak persuasif dan kompromis seolah-olah menempatkan dirinya berada di atas seluruh pemikiran yang ada tentang dunia, manusia, dan Realitas Ultimate. Berlaku sebagai sistem yang membuat wadah bagi seluruh keyakinan dan tradisi yang pernah ada.

Pengabaian perenialis terhadap perbedaan-perbedaan simbol, ritus, dan wilayah-wilayah empiris agama dengan mengangap semua itu hanya wilayah eksoteris yang merupakan kewajaran dalam kompleksitas ruhaniah telah meninggalkan duri terkait doktrin-doktrin yang saling berlawanan. Fokus pada pembuktian metafisis akan kesejatian Wujud menunjukkan kaum perennialis hanya mengutamakan harmonisasi pluralitas keberagamaan.

Kaum perennial mengatakan kampanye mereka bukan untuk menegasikan kehadiran agama dan kepercayaan yang sudah ada. Namun, Pencapaian kesadaran bahwa semua jalan mencapai keutamaan menuju Tuhan. Toleransilah yang hendak dikedepankan. Bahwa sudah saatnya mengakhiri klaim-klaim kebenaran yang berujung pada sikap ekslusif akibat kesalahan memahami maksud Tuhan. Sementara perjalanan sejarah agama telah ditulis dengan tinta darah. Apakah Filsafat Perennial mampu menghapus jejak kelam yang menodai sejarah dunia? Mudah-mudahan saja.

Sumber Bacaan:

  • Armstrong, Karen. Oktober 2001. Berperang Demi Tuhan. Serambi Ilmu Pustaka; Jakarta
  • Kuswanjono, Arqom.Juni 2006. Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perenial. Arindo Nusa Media; Yogyakarta.
  • Permata, Ahmad Norma (ed). Agustus 1996. Perennialisme Melacak Jejak Filsafat Abadi. PT Tiara Wacana; Yogyakarta