Selang beberapa waktu pasca gempa memilukan yang melanda Sumatera Barat, berbagai instansi angkat bicara dan bereaksi. Prof. Dr. Soedjarwadi, M.Eng selaku rektor UGM memberikan keterangan pers bahwa mahasiswa-mahasiswa UGM dari Sumatera Barat akan diberikan beasiswa dan keringanan biaya studi. Sontak saja pengurus 18 fakultas dan sekolah vokasi yang berada di lingkungan UGM bergerak cepat melakukan pendataan.

Surat edaranpun dipajang agar informasi bisa diketahui. Mahasiswa-mahasiswi Minang saling menyebarkan informasi bahwa ada bantuan dari Universitas. Menuliskan nama di kertas-kertas yang sudah disediakan agar bisa diproses oleh rektorat.

Hari ini hampir memasuki sebulan pasca gempa. Orang-orang masih sibuk memikirkan tempat berteduh. Sangat riskan untuk memulai membangun rumah, karena gempa-gempa kecil masih terjadi. Apalagi uang untuk membeli material, masih belum dikantongi. Beberapa mahasiswa rantau harus hutang sana-sini karena uang kiriman belum jua mampir di rekening. Beberapa harus puasa, menahan lapar karena tak ada lagi uang di tangan.

Musim ujian di UGM berarti segala kewajiban keuangan mesti ditunaikan. Harap-harap data yang sudah dikumpulkan akan berujung pada kebijakan rektorat untuk membebaskan uang kuliah. Dicoba bertanya kepada pengurus fakultas. Tak ada sebuah kepastian.

Ah, jikalau memang hanya sekedar mendata, kenapa tidak memanfaatkan arsip digital yang sudah ada saja??? Kantong data yang dipunyai UGM tentu sangat lengkap. Daripada harus menghabiskan kertas, yang akhirnya hanya dibiarkan menjadi tumpukan-tumpukan memenuhi ruangan.

Orang tua kami mengajarkan, orang Minang harus menjaga harga diri. Jangan mengemis jikalau kaki dan tangan masih bisa bekerja demi sesuap nasi. Jangan berutang, jikalau tidak amat memerlukan. Jadi jika memang tak bermaksud memberi janganlah mengumbar janji.