Hujan basahi malam. Orang-orang meringkuk di bawah tenda-tenda sederhana. Berbalut kain panjang dan sarung buat menghangatkan badan. Bau mayat menelusuk, hantarkan hawa kematian. Begitulah suasana malam pasca gempa di Sumatera Barat.

Meski siang, masyarakat tetap beraktivitas karena hidup harus dilanjutkan, namun apabila malam menjelang, kengerianpun datang menjadikan suasana mencekam. Rerebohan bangunan, masih berserakkan. Mayat-mayatpun masih banyak yang tertimbun rerentuhan. Petugas tampak keletihan setelah melakukan kerja-kerja evakuasi yang melelahkan. Hingga hanya penyemprotan demi penyemprotan yang bisa dilakukan. Agar wabah tak menjakiti masyarakat.

Suara-suara teriakan masih santer terdengar dari balik beton dan besi bangunan nan berantakkan. Tolong….. Tolong…… Begitulah suara miris itu, terdengar mengiris hati. Setelah dicari, tak ada sosok tubuh yang masih bernadi.

Suatu malam, sebuah angkot mengusir sunyi jalan kota Padang. Tampak gerombolan penumpang melambaikan tangan. Sang sopir-pun menghentikan laju kendaraan. Satu per satu naik. Hingga penuhlah seluruh kursi. Selang beberapa waktu, suara riuh menjadi sunyi. Setelah menoleh ke belakang, tak ada satu bangkupun yang terisi…

Ini hanyalah satu dari sekian kejadian misteri yang dialami oleh warga Padang pasca gempa yang telah meluluhlantakkan kota indah di tepi Samudera Hindia itu. Cerita yang menyisakan kepiluan lagi mengerikan.

Hanya satu harapan, semoga semua ini menjadi pelajaran untuk menginsyafi kesalahan diri. Akan dosa dan kedurhakaan yang tak henti-henti dilakukan. Rasanya, gempa yang terjadi Rabu Sore 30S yang lalu bukanlah sekedar ujian. Tapi telah menjadi kemarahan Tuhan, atas perilaku manusia yang telas melewati batas…