Terpilihnya Gamawan Fauzi sebagai Menteri Dalam Negeri Kabinet Indonesia Bersatu II sudah diduga sebelumnya. Tanda-Tanda sudah kelihatan semenjak beliau menyampai pidato dukungan deklarasi untuk SBY-Boediono beberapa waktu menjelang Pilpres. Aksi yang mengundang sejumlah kontroversi. Sebagian orang menganggap pembacaan deklarasi itu sebagai bentuk “pelacuran” politik. Sangat tabu bagi orang Minang mengemis-ngemis demi mendapatkan jabatan. Orang Minang punya harga diri, sebagaimana yang ditunjukkan Tan Malaka, Hatta, hingga Buya Hamka. Analisis lain mengatakan, keberanian Gamawan membacakan deklarasi untuk SBY adalah “kecerdikan” membaca arus yang sedang berkembang. Strategi melekat kepada SBY merupakan langkah jitu untuk mendapatkan kursi kekuasaan.

Kemunculan Gamawan telah meruntuhkan tradisi selama ini, Menteri Dalam Negeri mesti berlatar belakang militer. Lulus dari PTN lokal, Universitas Andalas, sepakterjang Gamawan mengalahkan lulusan-lulusan ilmu pemerintahan dan politik universitas sekaliber UGM dan UI.

Track record Gamawan memang patut diacungi jempol.  Ia begitu dielu-elukan masyarakat saat menjalani  karier sebagai Bupati Kabupaten Solok selama 2 periode. Pada masa inilah Gamawan meraih segudang prestasi. Kabupaten Solok yang dulunya terpinggirkan, menjadi harum dengan penghargaan tingkat nasional. Naik posisi menjadi Gubenur Sumatera Barat tanpa harus menghabiskan banyak uang untuk “merayu” partai politik. Tawaran kerjasama dari Partai Amanat Nasional dengan kompensasi miliyaran rupiah ditolak mentah-mentah. Dengan integritas dan kebersihan hati, beliau melenggang setelah digandeng PDIP dan PBB tanpa “agunan” sepersenpun.

Kapabilitas dan integritas pribadi Gamawan Fauzi memang tak diragukan. Hatta Award tahun 2004 dalam pemberantasan korupsi cukup menjadi bukti. Kegemilangan di bidang seni juga diraihnya. Sudah beberapa album nyanyian Minang berhasil dirilis Kalau boleh membanding-bandingkan, talenta Gamawan di musik mengalahkan kemerduan suara SBY yang juga hobi bernyanyi.

Namun, melihat banyaknya kebijakan-kebijakan brilian Gamawan terealisasi karena tak mampu dipahami atau “ditikung kawan sejalan” semasa menjadi Gubenur Sumatera Barat meninggalkan tanda tanya tersendiri. Sudah menjadi rahasia umum, banyak surat-surat pengaduan masyarakat tak sampai ke tangan sang Gubenur karena terhenti di tengah jalan. Bahkan ada satu kisah, bagaimana Gamawan “ditipu” oleh mahasiswa S2 dalam jumlah sekian puluh juta.

Dalam politik memang tak cukup menjadi baik dan jujur. Pendamping-pendamping munafik yang selama ini menghambat kiprah Gamawan sebaiknya disingkirkan. Meskipun emas di kubangan lumpur tetaplah emas, tapi dalam politik membesarkan anak harimau sama saja menyiapkan kuburan untuk diri sendiri. Dengan kecerdasannya, tentu kita berharap Gamawan bisa lepas diri dari lilitan mematikan ini.

Selamat berkiprah Pak Gamawan Fauzi. Mudah-mudahan kerja-kerja demi kemajuan bangsa ini berhasil dilakoni.

Tulisan ini telah dipublish sebelumnya di Kompasiana