Kata orang, perpustakaan-perpustakaan di luar negeri buka sampai larut malam. Kalau di UGM, perpustakaan hanya buka sampai jam 8 malam. Itupun hanya meninggalkan beberapa orang yang tak sempat berkunjung pada waktu siang. Terus, kalau di perpustakaan sepi kemana perginya para mahasiswa yang didaulat sebagai intelektual muda penerus perjuangan bangsa?

Dalam kesempatan ramah tamah antara Rektor UGM dengan orang tua mahasiswa baru UGM angkatan 2009, terucap sebuah jawaban atas pertanyaan tadi. Kata Prof. Soedjarwadi M.Eng., lamanya masa studi mahasiswa Jogja termasuk UGM adalah terlalu asyik dengan aktivitas malam. Begadang membuat pagi menjadi waktu yang nikmat untuk memejamkan mata.

Sesekali cubalah keluar menelusuri sudut-sudut kota Jogja. Akan banyak kita temui, kumpulan-kumpulan anak muda yang asyik bercengkrama. Tak hanya di Kafe-Kafe. Trotoarpun tak masalah diduduki. Lesehan, begitu ungkapan familiar untuk mengambarkan fenomena ini.

Predikat kota pelajar kemudian pudar. Gaya hidup hedonis, lebih menyemarakkan malam daripada pagi saat ini lebih mendominasi. Terkadang bincang-bincang malam memang menghasilkan ide-ide kreatif. Tapi tak jarang semua berujung pada hal-hal negatif.

Tulisan ini telah dipublish sebelumnya di Kompasiana