Traktiran atas sebuah kemenangan bukanlah sesuatu yang haram. Sekedar hadiah untuk sama-sama merasakan kebahagiaan bersama-sama, tidaklah salah, malah dianjurkan. Tapi konteks sekarang berbeda kawan. Paradigma “kamu jual, aku beli” yang melatarbelakangi kebaikan ini, telah menguburkan simpati.

Bukan suguhan ini yang aku harapkan. Bukan pula uang hasil kemenangan yang aku dambakan. Jauh dari semua itu kawan. Kalau hanya untuk nonton di Theater XXI dengan harga tiket Rp. 15.000, masih sanggup kutalangi dari uang kiriman bulanan.

Sungguh perspektif materialistik seperti inilah yang aku hindarkan. Mengukur semua atas dasar uang. Permintaan maaf tak bisa diukur dengan duit kawan. Aku tak butuh semua itu. Karena membayar sendiripun aku masih mampu.

Sebagai orang yang berpendidikan, kita tentu tak bisa disamakan dengan orang-orang awam. Ketika uang ada, selesai urusan. Bahkan idealismepun dijual karean seonggok uang. Sungguh tak mau menjadi orang tak punya harga diri seperti ini.

Yang kuharapkan, tabiatmu berubah kawan. Tak menjadikan uang sebagai “Tuhan”. Maaf jika untuk kali ini aku tak terima tawaranmu. Karena kebersamaan dulu lebih aku rindukan daripada sekedar traktiran basa-basi melepas kekesalan..

Ini bukan soal uang, KAWAN…