Congratulation… Inilah kata yang pantas aku haturkan buat seorang sahabat yang saat ini telah menjadikan diriku sebagai “musuh berat”. Muhammad Imran, mahasiswa Elektronika dan Intrumentasi angkatan 2002. Adik angkatan satu tahun di asrama  mahasiswa Sumatera Barat, meski aslinya lulus SMA tahun 2001. Kemarin, dalam acara meriah launching logo baru Telkom sekaligus pemberian penghargaan Indigo Award 2009, Imran menjadi bintang. Juara 1  Indigo Fellowship 2009 untuk Kategori Ide Kreatif berhasil digengam.

Masih teringat “percekcokan” sabtu malam minggu lalu dalam suksesi angker asrama “Musyawarah Besar” tahunan. Sebagian besar teman-teman menyayangkan sikap Imran yang acuh tak acuh terhadap asrama. Mengabaikan kewajiban yang sudah disepakati bersama. Akupun saat itu angkat bicara. Bahkan dengan lontaran-lontaran pedas yang memerahkan telinga.

Memang tiada yang menyangsikan keberhasilan dan kecerdasan Imran. Semangat hidup yang luar biasa, sampai akupun tak mampu mengikutinya. Ku kenal dia dulu adalah sosok yang sholeh. Tak pernah ketinggalan sholat berjama’ah di Masjid. Masih kuingat masa-masa pahit di asrama. Saat hegemoni senioritas masih membahana. Siapa yang preman, dialah penguasa. Maling merajelala. Uang, Hp dan barang-barang lainnya raib entah kemana. Termasuk Imran yang menjadi korbannya.

Dulu, sering bersepeda. Saling meminjamkan kala uang tak ada di tangan. Imran lebih mandiri dariku. Bekerja di sela-sela kuliah. Meskipun saudara-saudaranya di Jogja adalah saudagar-saudagar kaya, tapi keprihatinan hidup menghiasi kesehariannya. Saling sharing berbagi cerita hampir setiap malam.

Sekarang, sahabatku itu telah menjadi orang terkenal. Namanya harum sampai tingkat nasional. Mungkin tinggal menunggu waktu aja menyaksikannya berprestasi internasional. Jauh meninggalkanku, yang tak punya apa-apa untuk dibanggakan.

Suatu saat, bisa jadi Imran akan menjadi orang terkenal di negeri ini. Menjadi petinggi di perusahaan bergengsi. Tapi satu harapanku, jadilah seperti Imran yang dulu.. Yang hangat lagi bersahabat…