Beberapa hari yang lalu aku terlibat perdebatan sengit dengan seorang Professor ahli syaraf yang saat ini menjabat dekan fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Sang Professor mengatakan:

“Gun, belajar jadi pemimpin yang bijak, tidak emosional, belajar pada sikap dan pribadi SBY, tenang, berusaha mengajak semua komponen bangsa untuk atasi kesulitan bangsa dan negara”

Mendengar ungkapan itu, langsung saja perutku mual. Mengapa beliau merekomendasikan aku untuk belajar dari sosok yang selalu mengedepankan pesona bukan pada kerja. Sosok yang sibuk mengurusi pencitraan hingga seolah-olah bersikap kalem, pura-pura merangkul semua komponen demi melanggengkan kekuasaaan. Sosok yang tak berani mengambil keputusan beresiko, hingga lebih sering melemparkan statement-statement “menyejukkan” tapi sesungguhnya mematikan.

Mengapa mata seorang Professor hebat yang berasal dari Minang itu tidak terbuka dengan langkah yang diambil Pak Jusuf Kalla saat kekuasaan jauh darinya??? Kamis malam 30 September 2009 saat Pak SBY Yang Mulia sedang melapor kepada Bos Besar di Amerika, Pak JK langsung memanggil beberapa menteri untuk mengadakan rapat terbatas merespon bencana alam yang baru saja terjadi di Sumatera Barat.

Ketika sang Pahlawan yang pantas untuk ditauladani anak muda (biar tak memble seperti SBY) pergi meninggalkan tahta, mudah-mudahan rakyat tak buta dengan sejarah. Konversi gas, perdamaian Aceh, Ambon dan Poso, hanyalah sebagian kerja beliau untuk rakyat. Ada satu hal yang lebih penting, yaitu menjadikan bangsa ini punya martabat dan harga diri. Memangkas birokrasi dan sikap feodalistik. Tampil bersahaja dan sederhana, tanpa harus jaim (jaga image) di muka media.

Lengsernya Pak Jusuf Kalla adalah duka bagi komponen bangsa yang menginginkan perubahan. Luka bagi anak bangsa yang menginginkan bangsa ini sepenuhnya merdeka. Kekalahan bagi rakyat yang mendambakan pemimpin cerdas lagi pekerja keras.

Sulit untuk mengharapkan wakil presiden sekarang, apalagi menteri-menteri yang akan terpilih hari ini mampu menjadi mitra yang punya wibawa di hadapan SBY. Tidak sekedar mengiyakan kata Sang Raja. Karena, semua merasa berhutang budi setelah diberi sepotong kue kekuasaan.

Selamat berduka negeriku. Karena yang berkuasa saat ini atas dirimu adalah orang-orang yang menghamba kepada negara-negara maju. Tidak mungkin semangat Merdeka yang dibawa Tan Malaka bersemai di hati orang-orang yang lebih mementingkan pesona dan melanggengkan kuasa…

Tulisan ini telah dipublikasi sebelumnya di