kompasianaKompasiana, layanan baru website Kompas yang baru hari ini membuka mataku. Bersandar pada semangat Citizen Journalism, Kompas sebagai media terkemuka di tanah air telah membuat terobosan baru untuk pembacanya terutama para pembaca online.

Aku tak ingat lagi, kapan meninggalkan situs detik.com karena kepincut dengan edisi elektronik Kompas. Selain membaca berita kesehatan dan politik yang menjadi fitur yang paling sering ku buka, edisi Koki adalah rubrik yang tak pernah lepas ku tinggalkan hatta sampai larut malam sekalipun. Berisikan kisah nyata dari orang-orang Indonesia yang berdomisili di berbagai daerah nusantara hingga yang menetap di luar negeri. Kisah-kisah inspiratif yang membuatku hanyut menikmati artikel-artikel yang ditulis oleh para Koki’ers.

Dihapusnya edisi Koki dari website Kompas sungguh amat ku sayangkan. Cerita yang dituliskan dari pengalaman-pengalaman nan luput dari perhatian banyak orang. Rubrik yang sulit dicari bandingannya.

Saat-saat terakhir Koki, ditutup dengan sebuah sapaan menghibur oleh admin Kompas.com. “Bagi pengunjung dan kontributor yang masih ingin menikmati indahnya berbagi, bisa melanjutkan petualangan lewat Kompasiana”. Aku yang terlanjur kecewa saat itu, tak mengubris bujukan sang administrator. Meski tetap ku buka setiap hari Kompas edisi online, tapi Kompasiana tak begitu menarik minatku.

Barulah hari ini aku tersadar betapa luasnya informasi yang dimuat oleh Kompasiana. Lewat sms guru ngaji-ku, lulusan Universitas Madinah yang merekomendasikan sebuah tulisan bagus mengenai peran media dalam mengangkat tema-tema terorism. Ya, hingga perkenalan awal yang mengesankan tadi pagi akupun langsung mendaftar sebagai salah satu blogger di Kompasiana.

Menjadi blogger sejak tahun 2006 yang lalu, telah membuatku mengerti kekuatan kata-kata. Meski tak harus mengejar kepopuleran dan kekayaan materi, sungguh menulis telah memberikan kebahagiaan tak terhingga bagi orang-orang yang punya segudang rasa yang dipendam dalam hatinya. Sebuah kenikmatan tak terkira sewaktu berhasil merangkai kalimat demi kalimat yang kemudian dibaca oleh orang lain.

Terima kasih kepada Kompas, yang telah memberikan ruang kepada orang-orang muda sepertiku untuk berkarya lewat Kompasiana. Mudah2an sekat-sekat ruang komunikasi dan pembatasan wacana bisa dihancurkan oleh Kompasiana sebagai ruang publik yang bisa dipakai oleh siapa saja…

Okey deh, selamat ulang tahun pertama untuk Kompasiana…

Tulisan ini telah dipublish sebelumnya di