Apalah artinya bergelimang dengan setumpuk trofi, jika teman-teman lari menjauhi diri??? Apalah artinya segudang prestasi jika tak pernah peduli dengan tempat tinggal sendiri?? Apakah raihan dan kegemilangan mengharumkan nama dalam ivent-ivent nasional bisa mengobati hati-hati yang telah tersakiti? Apakah sertifikat kemenangan bisa menghilangkan egoisme diri yang sudah tertanam di sanubari??

Aku kembali tersadar akan hadist yang mengatakan “sebaik-baik manusia adalah insan yang memberikan banyak manfaat bagi orang orang”. Terutama sekali sikap baik kepada tetangga dan orang-orang di sekitar. Sampai-sampai Nabi mengancam orang-orang yang tak mau peduli dengan tetangganya.

Hidup sebagai mahasiswa yang tinggal di asrama, telah mengenalkanku dengan berbagai karakter anak muda. Ada yang acuh tak acuh dengan keadaan, sampai orang yang amat peduli hingga mendzolimi diri sendiri.

Dari sekian karakter yang kuamati, tipelogi “anjing kejepit” mengisi pikiranku saat ini. Ketika teman-teman yang lain susah-susah turun ke jalan menggalang bantuan, tidak sedikitpun ia merasa kasihan. Ketika rasa memiliki ditunjukkan, ia sibuk dengan urusannya sendiri. Tak pernah acuh dengan apa yang terjadi. “Terserah orang mau buat apa, yang penting ngak ganggu privacy gue”.

Menikmati fasilitas yang diusahakan oleh teman-teman yang lain, tanpa pernah mengucapkan terima kasih. Malahan mengumpat dan emosi ketika ditagih untuk berkontribusi.

Ah, manusia macam apa itu? Meskipun suatu saat ia meraih prestasi gemilang entah setingkat apapun, mau nasional, internasional ataupun sejagad sekalipun, tiada pantas  simpati buat orang itu. Karena tak penting pencapaian apapun, jika kepala membatu. Tak ada artinya sebuah kemenangan, jika terus melenggang angkuh di antara teman.

Aku jadi ingat seorang adik kelas di Filsafat yang sudah melanglang buana ke Jerman. Berhasil memenangkan kontes menulis tingkat internasional. Setiap kali bertemu di kampus, ia tetap bersahaja. Menyapa duluan, dan bersikap biasa. Malahan ia gelisah, mencari jawaban apakah Jermah adalah tujuannya selama ini. Ia bilang TIDAK.. Jerman bukanlah yang kucari.

Ya, agaknya kita bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Menauladani orang-orang rendah hati. Dan membuang jauh sikap angkuh diri. Tiadalah berarti setumpuk trofi, jika teman sendiri tak lagi peduli…