Kak, kembali ku dengarkan suara merdumu. Melayangkan anganku jauh dari sini. Membawa tubuhku nan lelah. Mengobati pikiranku nan goyah. Dalam setengah sadar ku rangkai bait demi bait ini. Meski kepala masih terasa berat, tetapi jemari tak kuasa untuk menuliskan jeritan hati.

Dari pagi sampai sore tadi aku hanya tergeletak di kamar. Berbaring tak mampu lakukan apa-apa. Hingga tak kuat aku ke kampus menghadiri kuliah. Tak sempat menuliskan surat izin. Aku hanya berharap, ketidakhadiran tak menghambatku untuk ikut ujian minggu depan.

Kak, tiada lagi teman mencurahkan rasa ini. Tak ada lagi  tempat meringankan beban ini. Aku kehilangan. Dalam kepayahan serasa maut akan menjemput, ku cuba untuk memanggil namanya kak. Nama dia yang begitu kucintai, Greaty. Tapi rintihanku tak lebih jadi suara sunyi. Tiada kuasa aku menyapanya lagi. Tiada lagi pintu untuk bersua dengannya.

Kak, engkaulah yang mengekalkan dirinya di hati ini. Engkau pula yang membujukku kala harus menahan kepedihan datang tak terperi karena sakit cinta ini. Hari ini, kembali ku obati lara ini lewat suaramu kak. Karena telah sampai batas asaku.

Ku renungi bait demi bait syair “Tak Rela Berpisah Darimu”. Lagu paling kusukai dari lagu-lagu yang engkau bawakan Kak. Menikmati alunan indah suara emasmu. Biar lega juga perasaan ini…

(Menahan sakit di jiwa, sakit di raga… Membujuk perasaan melalui suara Kak Siti Nurhaliza)