Aku terkapar… Setelah kemarin malam sampai siang tadi tak tidur. Ada hajatan tahunan asrama yang tak bisa ditinggalkan, Musyawarah Besar Asrama Mahasiswa “Merapi Singgalang”. Beradu argumen secara intelek, kadang membakar emosi. Tapi logika-lah yang diadu, retorika yang didahulukan. Tak ada bentrokan fisik, karena amarah terkendali. Meski kadang umpatan kasar terlontar, tapi semua diterima dengan hati sabar. Hingga rasa harulah yang menjadi akhir semua. Karena lontaran-lontaran pedas hadir bukan karena dendam, tetapi timbul dari kepedulian perkawanan.

Jam 10.30 baru bisa tidur. Tapi satu setengah jam kemudian dibangunkan karena ada tamu dari Sarkorlak DIY yang berkenan menolong kami mengangkut barang-barang bantuan ke Sumatera Barat. Ku sambut bapak-bapak itu dengan kondisi setengah sadar. Senyum di tengah letih yang bisa dihaturkan. Sekalian terima kasih telah berkenan mengantar 91 dus biskuit, pakaian dan indomie yang telah dikumpulkan 2 minggu ini.

Jam Satu Siang, ku cuba lagi pejamkan mata. Setelah sholat dzuhur sendirian di kamar. Suasana siang terasa aneh. Dunia terasa kelam. Tubuh, tak mampu lagi menahan letih. Kala “sekarat” seperti itu, bayangan Greaty kembali hadir. Dalam lirih ku berkata, “Great, aku butuh hadirmu. Jangan tinggalkan aku”. Hingga bisikan hati itu hanyut seiring terbangnya aku dalam tidur.

Baru jam Lima-an aku kembali bangun. Cukup telat untuk menunaikan sholat ashar. Tapi syukurlah, masih ada waktu sedikit untuk kembali bersujud menghamba kepada-Nya.

Kala kesadaranku mulai pulih di magrib ini, yang terpikir olehku, “bagaimanakah hari esok setelah ini?”. Terlalu banyak waktuku terbuang di Jogja, tanpa sebuah pencapaian yang menggembirakan. Terlalu telat amanah orang tua ku rampungkan. Aku terlalu bersembunyi dari geliat dunia, dibunuh oleh igauan-igauan masa lalu yang masih saja bertahta.

Sungguh, tak pantas lagi aku mengenangmu Great… Apalagi mengenang Liza dan Ivana yang telah menikah. Sudah saatnya aku mengukir lembaran baru. Karena tak baik rasanya terus mengeluh seperti ini. Aku ingin merangkai masa depanku. Masa depan yang lepas dari kisah-kisah lama yang menyesakkan dadaku.

Aku ingin melanjutkan hidup. Lepas dari jeratan masa lalu. Aku ingin menjadi manusia baru. Sosok optimistis menatap langit biru. Tuhan, aku ingin jadi hambaMu yang sholeh. Menjadi hambaMu yang mampu membahagiakan orang-orang di sekelilingku. Tuhan, ku tadahkan tangan menghiba kepadaMu. Aku ingin berubah Ya Allah…