Hanya memajang pamflet dan spanduk yang disertai nomor rekening untuk menggalang bantuan, secara tidak sadar telah mengajarkan masyarakat berpikir sektarian. Cuba pikirkan lebih jauh lagi, berapa sih biaya transfer antar bank??? Taruklah Rp. 5.000 sesama bank atau Rp. 15.000 ribu antar Bank, asumsi logisnya adalah paling tidak sumbangan lewat rekening minimal Rp 50.000 atau Rp. 100.000 agar masih banyak tersisa untuk bantuan. Artinya apa, orang yang menyumbang di atas Rp. 50.000/Rp. 100.000 ribu rata-rata adalah orang berpunya.

Secara matematis, memang jika ada sekitar seratus penyumbang dengan besaran Rp. 100.000 maka akan terkumpul Rp. 10.000.000. Cukup besar jika yang menyumbang lewat jalur ini mencapai 1000 orang atau 10.000 orang. Tentu jumlah yang dikumpulkan sangat fantastis.

Tapi ingatkah kita, bukan orang-orang kaya saja yang ingin masuk surga. Bukan orang-orang kaya saja yang tersentuh hatinya ketika melihat penderitaan korban gempa. Bukan hanya orang-orang kaya saja yang ingin menyisihkan barang sedikit dari penghasilannya sebagai wujud empati dari nurani yang masih suci, peduli sesama hamba Tuhan.

Jika pintu menyalurkan bantuan disekat lewat publikasi media dengan angka jutaan, melalui rekening minimal dengan besaran Rp. 100.000-an ribuan, bagaimana caranya orang-orang menengah ke bawah menyalurkan bantuan???

Sungguh, sumbangan Rp. 1.ooo dari pedagang sayur di pasar yang baru pulang dari pasar dengan penuh keikhlasan, lebih berkah dari pada sumbangan jutaan dari orang yang terpengaruhi riya publikasi media. Sungguh uang receh Rp. 100  dari anak SD yang diboncengi bapaknya sepulang sekolah lebih berharga daripada sumbangan miliaran rupiah dari kaum borjuis yang hidup senang dari pencurian kekayaan negara.

Sumbangan-sumbangan ikhlas orang-orang proletar itu bukan dikejar dengan poster berjibun rekening di sepanjang jalan, bukan pula lewat tv dan koran. Tapi dengan turun ke jalan-lah, dengan turun ke masjid-lah uang-uang berkah itu bisa kita kumpulkan.

Semoga tulisan singkat ini bisa mengugah, bahwa sumbangan dari kaum proletar lebih berharga dari sumbangan konglemerat pencuri uang negara yang cuba disucikan lewat donasi-donasi amal. Kaum intelektual harus menyadari, bahwa hati suci kaum menengah dan termaginal mesti difasilitasi untuk beramal….

Tulisan ini kupersembahkan buat teman-teman asrama mahasiswa Sumatera Barat “Merapi Singgalang” dan “Bundo Kanduang”, teman-teman Forkommi UGM, serta para relawan yang telah begitu semangat bersama-sama turun ke jalan, mengumpulkan receh Rp. 100, Rp. 500, Rp. 1.000 di perempatan jalan-perempatan jalan di Jogja.

Buat Mbak Evita, Mbak Putri, dan seluruh pegawai Bank BNI Cabang UGM yang selalu tersenyum ramah, melayani kami yang membawa uang-uang receh untuk ditransfer ke Sumatera Barat, meski harus bercapek-capek menyusun dan menghitung uang-uang receh yang kami kumpulkan. Dengan jumlah tak seberapa, cuma Rp. 100.000.000-an