Maaf Teman Aku Harus Pergi


Teman-teman, maafkan aku. Bukannya aku lari dari amanah yang kita pikul bersama saat ini. Tapi izinkan aku undur diri sejenak. Berikan aku kesempatan untuk memikirkan masa depanku. Merampungkan kuliahku yang telah memasuki masa-masa kritis.

Tentu tak perlu untuk mengungkap semua yang telah kulakukan demi organisasi dan orang lain. Biarlah malaikat saja yang mencatat semua, sebagai bekalku di akhirat nanti. Saatnya generasi muda lahir. Saatnya anak-anak baru yang tampil. Sebagai mahasiswa, aku sudah terlalu untuk mengurus semua ini. Saatnya bagi dirimu kawan untuk melanjutkan jejak, mengibarkan panji-panji kesuksesan.

Berikan aku waktu untuk menyendiri, menunaikan kewajibanku kepada Bapak dan Ibuku. Membawa mereka kembali ke sini, menyaksikan kemegahan UGM dalam keharuan seremoni wisuda di Grha Sabha Pramana.

Telah kubersamai dirimu kawan dalam beberapa tahun ini. Melewati kepedihan dan masalah bersama-sama. Kini saatnya dirimulah yang mengurus semua. Bukan sebagai pelimpahan beban, jadi sebagai pembelajaran bagi kalian, kawan.

Aku punya impian, aku punya tanggung jawab untuk membantu meringankan beban orang tuaku untuk membantu keluarga besarku yang saat ini terpuruk. Tiada artinya menjadi mahasiswa UGM dan bisa mengurus berbagai organisasi tapi tak sanggup membantu barang sedikit untuk keluarga sendiri.

Aku ingin lepas dari masa laluku yang pahit. Seminggu selepas lebaran yang lalu Ivana menikah. Hari ini seseorang yang pernah kucintai telah pula menikah di Padang Panjang sana. Hatiku remuk. Tapi hidup harus terus dijalani. Aku menangis hari ini. Menunggu detik-detik saat ditutup dengan pernikahan Greaty. Yang entah seperti apa aku akan merajuk dan menguraikan air mata saat hari bahagianya buatnya itu.

Aku tak ingin mendahului kehendak Tuhan. Mengekang kebahagiaan orang-orang yang kucintai. Mereka punya pilihan. Tiada kuasaku untuk mengatur semua. Tiada pula pantas aku bersedih di atas kebahagiaan mereka.

Sungguh janji Tuhan itu amat pasti. Ia punya kuasa menentukan takdir seorang anak manusia. Berarti Dia juga punya kuasa dengan jodohku nanti.

Sahabat, aku harus pergi… Demi masa depanku. Demi harapan yang telah lama dinanti-nantikan oleh Bapak dan Ibu… Sekali lagi, izinkan aku untuk mengurusi diri sendiri saat ini…

Mode On YOU ARENOT ALONE by Michael Jackson

Iklan

3 thoughts on “Maaf Teman Aku Harus Pergi

  1. “Tiada artinya menjadi mahasiswa UGM dan bisa mengurus berbagai organisasi tapi tak sanggup membantu barang sedikit untuk keluarga sendiri.”
    Mandiri dan berdikari itu penting ternyata, kemandirian itu bergerak dari ketergantungan, sedangkan kesalingtergantungan itu lebih baik daripada kemandirian. Tapi kita dituntut mandiri dahulu, karena jika tidak, pada hakikatnya kita tidak saling tergantung, tapi kita tergantung pada orang lain.
    Selamat berjuang, Nggun! Anda berhak punya keputusan seperti itu dan hal itu tidaklah egois, tapi realistis.

  2. ya..kumpulkan segera serpihan waktu yang ada gun…segeralah mandiri.sejatinya kebanggaan yang berarti adalah kebanggaan orang tua kita dengan bakti dan kesuksesan kita…

    Doakan yang terbaik buat yang di Padang Panjang sana…
    ana turut bahagia buatnya..tapi simpati padamu…Jodoh Allah yang atur..

  3. ass..
    ngak sengaja ketik merapi singgalang di google
    yang terbaca dilayar web nyo uda.keren ..
    salut dengan perkembanganyoo uda.tapi jane sedih baco tulisan iko…
    satu kalimat untuak uda”manusia diciptakan untuk menyembah-NYA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s